Yasser Mulla Shadra
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Puncak-Puncak Capaian Sufistik Dalam Perspektif Metodologis Andi Hasriani Asfar; Andi Aderus; Indo Santalia; Yasser Mulla Shadra
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5858

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji puncak-puncak capaian sufistik dalam tradisi tasawuf melalui pendekatan metodologis yang komprehensif. Fokus kajian diarahkan pada konsep-konsep sentral seperti ma‘rifat, fana’, baqa’, ittihad, hulul, dan wihdat al-wujud, serta bagaimana konsep tersebut berkembang dalam konteks historis, epistemologis, dan teologis. Penelitian ini juga menelaah bagaimana pengalaman puncak sufistik dipahami, diinterpretasi, dan dipersoalkan dalam wacana kontemporer, khususnya terkait otoritas spiritual, validitas pengetahuan mistik, serta implikasi etis dan sosialnya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan analisis isi yang dipadukan dengan pendekatan historis-kritis, hermeneutis, dan fenomenologis. Karya-karya klasik tokoh sufi seperti Al-Ghazali, Al-Qusyairi, dan Ibn Arabi, serta literatur akademik kontemporer tentang tasawuf, dijadikan sumber utama dalam merumuskan gambaran metodologis yang utuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puncak capaian sufistik merupakan konstruksi multidimensional yang tidak dapat dipahami hanya melalui kerangka teologis, tetapi juga menuntut pembacaan psikologis, sosial, dan epistemologis. Pendekatan fenomenologis mengungkap sifat subjektif namun terstruktur dari pengalaman mistik, sementara pendekatan historis menyoroti konteks sosial-politik yang membentuk kontroversi seputar konsep seperti ittihad atau wihdat al-wujud. Kajian ini menyimpulkan bahwa pemahaman terhadap capaian sufistik harus diletakkan dalam kerangka metodologis yang integratif agar mampu menjelaskan kompleksitas pengalaman spiritual, sekaligus menilai relevansinya dalam menjawab persoalan spiritual modern. Tasawuf tetap memiliki signifikansi kontemporer sejauh dipahami secara kritis, etis, dan berbasis pada otentisitas tradisi.
Pluralitas Makhluk Dan Keesaan Khaliq: Telaah Kritis Konsepsi Para Sufi Mayani Mayani; Andi Aderus; Indo Santalia; Yasser Mulla Shadra
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5940

Abstract

Artikel ini membahas konsep pluralitas makhluk dan keesaan Khaliq dalam perspektif tasawuf, dengan menyoroti perbedaan pemaknaan antara tasawuf falsafi dan tasawuf akhlaqi. Pluralitas makhluk dipahami sebagai kenyataan ontologis yang diakui oleh al-Qur’an, sementara keesaan Khaliq merupakan prinsip fundamental tauhid yang menjadi dasar seluruh bangunan teologi Islam. Kajian ini menunjukkan bahwa para sufi tidak menafikan keesaan Tuhan dalam memahami kemajemukan makhluk, melainkan berupaya menjelaskan relasi ontologis antara Yang Esa dan yang banyak melalui pendekatan spiritual dan metafisis. Tasawuf falsafi memaknai pluralitas sebagai manifestasi atau tajalli dari Wujud Tunggal, yang melahirkan konsep-konsep seperti fana’, baqa’, ittihad, hulul, wahdat al-wujud, serta doktrin Nur Muhammad sebagai asal mula kosmik. Sementara itu, tasawuf akhlaqi menegaskan perbedaan esensial antara Khaliq dan makhluk, dengan tetap mengakui pengalaman spiritual selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid dan syari‘ah. Melalui analisis komparatif, artikel ini menegaskan bahwa perbedaan tersebut lebih bersifat metodologis dan ekspresif, bukan pada penolakan terhadap tauhid. Dengan demikian, pemikiran sufistik tentang pluralitas makhluk dan keesaan Khaliq merupakan upaya intelektual-spiritual untuk memperdalam makna tauhid, bukan penyimpangan dari ajaran Islam.