Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kesehatan Mental dan Gaya Resolusi Konflik: Studi pada Aparatur Sipil Negara Raden Mutiara Puspa Wijaya; Muhammad Iqbal
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6539

Abstract

Berdasarkan Dual-Process Theory of Decision-Making yang dikemukakan oleh Kahneman, kondisi psikologis seperti kesehatan mental memengaruhi kecenderungan individu dalam menggunakan proses berpikir intuitif dan emosional atau proses berpikir rasional dan terkontrol, yang selanjutnya membentuk preferensi gaya resolusi konflik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara tingkat kesehatan mental dan gaya resolusi konflik pada Aparatur Sipil Negara (ASN) di sebuah institusi negara. Kesehatan mental diukur menggunakan Mental Health Inventory-24 (MHI-24), yang mengelompokkan responden ke dalam kategori kesehatan mental rendah, sedang, dan tinggi berdasarkan aspek kesejahteraan psikologis dan distres psikologis. Gaya resolusi konflik diukur menggunakan Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument (TKI), yang mengidentifikasi lima gaya resolusi konflik, yaitu competing, collaborating, compromising, avoiding, dan accommodating. Penelitian ini menggunakan desain survei potong lintang (cross-sectional) dengan analisis data deskriptif dan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori kesehatan mental sedang hingga tinggi. Gaya resolusi konflik yang paling dominan adalah collaborating dan compromising, sementara gaya avoiding dan competing relatif lebih jarang digunakan. Hasil uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kategori kesehatan mental dan gaya resolusi konflik. Temuan ini menegaskan peran penting kesejahteraan psikologis dalam mendorong resolusi konflik yang konstruktif serta menyoroti pentingnya upaya promosi kesehatan mental dan pengembangan keterampilan resolusi konflik pada Aparatur Sipil Negara di institusi negara.
Gambaran Penerimaan Diri Pada Ibu yang Mengalami Keguguran Akibat Stress Kehilangan Pekerjaan Khalil Firza Ardiansyah; Zahwa Afrida Fazrina; Muhammad Iqbal
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.48037

Abstract

Job loss remains a major source of stress for women, even if they have a partner who also works. As a mother, the psychological stress of losing a job role can have an impact on emotional and physical conditions, and can even increase the risk of pregnancy. Miscarriage is an emotionally challenging experience, both psychologically and physically for both parents. Self-acceptance is the psychological process of someone accepting and appreciating themselves as a whole, including their strengths, weaknesses, and all aspects of themselves. This study aims to explore the process of self-acceptance in a mother. The research subject with the initials ZZ, aged 54 years, is a mother who experienced a miscarriage due to stress caused by job loss. There are 3 informants, namely the subject's husband, the subject's close friend, and the subject's child. In the context of a mother who experienced a miscarriage due to stress due to job loss, self-acceptance has a very big influence on the challenges in her to face the problem. This study applies a qualitative method by conducting semi-structured interviews with a mother who experienced a miscarriage due to stress due to job loss. The results showed that the subject experienced emotional stress due to job loss and hunger. Through family support, a spiritual approach, and reconstruction of hope, the subject was able to accept the conditions she experienced. Subject self-acceptance is formed through self-understanding, realistic expectations, and a supportive environment.