Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Manajemen Farmakologis Penyakit Paru Obstruktif Kronis : Literature review Nerdy Nerdy; Salsabila Dewi Pardede; Kanne Dachi; Muh. Ali Khurnaini M. Bintang; Amelia Oktarima; Mirna Nadhirah; Tazkia Kamila; Cut Najwa Salma; Misna Ariwani; Isna Anantana; Novita Maulina; Alya Nabila; Fitria Gusmayani; Kania Rapita Br Brahmana; Nur Ardian; Ziyaul Sabila; Ivan Fahmil; Ryan Afandy
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan kondisi pernapasan kronis yang memerlukan manajemen farmakologis efektif untuk mengurangi gejala seperti sesak napas, meningkatkan fungsi paru, dan mencegah eksaserbasi. Literatur review ini menganalisis 10 studi terkini (2021-2025) yang mengevaluasi intervensi farmakologis dan non-farmakologis pada pasien PPOK. Temuan utama menunjukkan bahwa teknik pursed lip breathing (PLB) menurunkan frekuensi napas dari 28 kali per menit menjadi 22-23 kali per menit dan meningkatkan saturasi oksigen dari 93-94% menjadi 97-98%, sambil meningkatkan toleransi aktivitas. Terapi bronkodilator dan kortikosteroid secara signifikan meningkatkan arus puncak ekspirasi (APE) sebesar 46-49 liter per menit atau 46-49%, dengan 95% pasien mengalami peningkatan minimal 15%. Kombinasi nebulizer dengan batuk efektif dan PLB efektif mengatasi dispnea, sementara terapi nebulizer menurunkan frekuensi napas (p=0,000). Teknik napas dalam meningkatkan saturasi oksigen dari 91% menjadi 95% dalam 5-10 menit, dan edukasi terapi latihan berbasis rumah meningkatkan pemahaman pasien. Namun, kepatuhan penggunaan inhaler rendah (38% buruk), dengan hubungan signifikan terhadap outcome terapi (p<0,005), meningkatkan risiko eksaserbasi. Penatalaksanaan fisioterapi dengan nebulizer dan latihan memperbaiki ekspansi thorax dan mengurangi spasme. Studi penggunaan obat menunjukkan dominasi salbutamol (10%), kombinasi salbutamol+ipratropium (14%), metilprednisolon (12%), N-asetilsistein (10%), dan levofloxacin (6%), dengan interaksi obat seperti metilprednisolon-aminofilin (16%) dan levofloxacin-metilprednisolon (17%) yang memerlukan pemantauan. Secara keseluruhan, integrasi terapi farmakologis dan non-farmakologis optimal, namun tantangan kepatuhan dan interaksi obat menekankan perlunya edukasi intensif.
Perkembangan terapi farmakologis pada pasien Hipertensi : Literature Review Nerdy Nerdy; Siti Fathiyah Mawaddah; Kanne Dachi; Muh. Ali Khumaini M. Bintang; Alisa Ananda Putri; Hizqia Wildani; Suci Cahyani; Caisya Wulandari; Junaidy Junaidy; Dinda Sofia; Fachry Hardianta Ginting; Roswirna Yanti; Fatma Sari; Salman Alfarisyi; Dita Nayami Tanjung; Dhafi Dhafi; Astuti Ramzayani
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan utama karena prevalensinya tinggi dan berisiko menimbulkan komplikasi berat seperti stroke, penyakit jantung, serta gangguan ginjal. Penatalaksanaan hipertensi membutuhkan terapi yang efektif dan berkelanjutan guna mencapai target tekanan darah serta mencegah kerusakan organ target. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perkembangan terapi farmakologis pada pasien hipertensi berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode yang digunakan adalah literature review. Hasil kajian menunjukkan bahwa terapi farmakologis yang paling sering digunakan adalah golongan Calcium Channel Blocker (CCB) dan Angiotensin Receptor Blocker (ARB). Amlodipin sebagai CCB menjadi pilihan utama karena efektif menurunkan tekanan darah sistolik, sedangkan ARB seperti kandesartan, valsartan, losartan, irbesartan, dan telmisartan memberikan manfaat dalam pengendalian hipertensi dengan profil efek samping yang relatif lebih ringan. Terapi kombinasi, khususnya amlodipin dan bisoprolol, juga menunjukkan efektivitas yang baik dalam menurunkan tekanan darah sistolik maupun diastolik. Pada pasien dengan komplikasi seperti gagal ginjal, lisinopril terbukti dapat menurunkan tekanan darah sistolik, sedangkan keamanan terapi ditinjau melalui perbandingan kadar kreatinin yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara penggunaan ACE inhibitor dan ARB. Selain terapi farmakologis, intervensi nonfarmakologis seperti foot massage, relaksasi Benson, dan guided imagery juga memberikan efek penurunan tekanan darah. Kesimpulannya, pengelolaan hipertensi perlu dilakukan secara komprehensif melalui terapi farmakologis yang rasional dan dukungan terapi nonfarmakologis untuk mencapai kontrol tekanan darah optimal dan mencegah komplikasi.
Peran Apoteker Komunitas dalam Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 : Literature Review Nerdy Nerdy; Nasyiwa Ulayya Ardani; Kanne Dachi; Muh. Ali Khumaini M. Bintang; Khaila Zahra Adelia; Irhamni Irhamni; Nasywa Suar; Putri Najwa; Zaskia Chalissa; Fadillah Amanda; Wulan Syahira; Suci Isnaini Muliyo; Asyifa Karima; Atsilah Zayyan Faidah; Frisca Febrilia Tumangger; Nellia Putri; Zesica Khairunisa; Iffana Isman
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit kronis yang membebani sistem kesehatan global, termasuk Indonesia, dengan prevalensi yang terus meningkat. Menurut data International Diabetes Federation (IDF) 2023, sekitar 537 juta orang dewasa hidup dengan diabetes, diperkirakan mencapai 643 juta pada 2030. Di Indonesia, Riskesdas 2022 menunjukkan prevalensi 10,9% pada populasi dewasa, dengan lebih dari 19 juta orang terdiagnosis, dan biaya kesehatan mencapai Rp 50 triliun per tahun akibat komplikasi seperti penyakit kardiovaskular dan gagal ginjal. Literatur review ini menganalisis peran apoteker komunitas dalam pengelolaan DMT2 melalui 10 studi terkini dari tahun 2021-2025. Metode melibatkan pencarian literatur di database seperti PubMed, Scopus, dan Garuda, dengan kriteria inklusi artikel peer-reviewed yang fokus pada intervensi apoteker di Indonesia. Analisis kualitatif dan kuantitatif mengungkap efektivitas intervensi seperti edukasi, pemantauan terapi, dan asuhan kefarmasian. Hasil menunjukkan intervensi apoteker secara signifikan meningkatkan kepatuhan pasien, kontrol glikemik, dan kualitas hidup. Meta-analisis 22 studi klinis menunjukkan penurunan HbA1c sebesar 0,68% (p < 0,00001), sementara studi di Puskesmas Bulukumba melaporkan penurunan HbA1c dari 9,11% menjadi 6,48% (p < 0,005) dan peningkatan indeks kualitas hidup dari 0,849 menjadi 0,967 (p < 0,05). Intervensi seperti Home Pharmacy Care (HPC) dan konseling berbasis booklet juga mencegah kesalahan terapi dalam Program Prolanis BPJS Kesehatan. Namun, hambatan seperti kurangnya integrasi kebijakan, remunerasi, dan kompetensi klinis masih menjadi tantangan. Analisis ekonomi menunjukkan penghematan biaya hingga USD 1.000 per pasien per tahun melalui pencegahan komplikasi. Penelitian ini merekomendasikan penguatan peran apoteker melalui pelatihan, reformasi pendidikan, dan insentif finansial untuk mengoptimalkan pengelolaan DMT2 di tingkat primer, sehingga mengurangi beban penyakit kronis di Indonesia.