Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan utama karena prevalensinya tinggi dan berisiko menimbulkan komplikasi berat seperti stroke, penyakit jantung, serta gangguan ginjal. Penatalaksanaan hipertensi membutuhkan terapi yang efektif dan berkelanjutan guna mencapai target tekanan darah serta mencegah kerusakan organ target. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perkembangan terapi farmakologis pada pasien hipertensi berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode yang digunakan adalah literature review. Hasil kajian menunjukkan bahwa terapi farmakologis yang paling sering digunakan adalah golongan Calcium Channel Blocker (CCB) dan Angiotensin Receptor Blocker (ARB). Amlodipin sebagai CCB menjadi pilihan utama karena efektif menurunkan tekanan darah sistolik, sedangkan ARB seperti kandesartan, valsartan, losartan, irbesartan, dan telmisartan memberikan manfaat dalam pengendalian hipertensi dengan profil efek samping yang relatif lebih ringan. Terapi kombinasi, khususnya amlodipin dan bisoprolol, juga menunjukkan efektivitas yang baik dalam menurunkan tekanan darah sistolik maupun diastolik. Pada pasien dengan komplikasi seperti gagal ginjal, lisinopril terbukti dapat menurunkan tekanan darah sistolik, sedangkan keamanan terapi ditinjau melalui perbandingan kadar kreatinin yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara penggunaan ACE inhibitor dan ARB. Selain terapi farmakologis, intervensi nonfarmakologis seperti foot massage, relaksasi Benson, dan guided imagery juga memberikan efek penurunan tekanan darah. Kesimpulannya, pengelolaan hipertensi perlu dilakukan secara komprehensif melalui terapi farmakologis yang rasional dan dukungan terapi nonfarmakologis untuk mencapai kontrol tekanan darah optimal dan mencegah komplikasi.
Copyrights © 2026