Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Relationship between Nurses' Knowledge and Attitudes toward Patient Safety Culture Implementation in Inpatient Wards: A Cross-Sectional Study at Mitra Sejati Hospital Ruminta Sirait; Grace Mutiara
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background and Purpose: Adverse events in hospitals remain a persistent global patient safety challenge, with nurses' knowledge and attitudes identified as key determinants of safety culture quality. This study aimed to investigate the relationship between nurses' knowledge and attitudes toward patient safety and the implementation of patient safety culture in inpatient wards of Mitra Sejati General Hospital, Medan, Indonesia. Methods: A cross-sectional correlational study was conducted among 85 inpatient ward nurses recruited via total sampling. Inclusion criteria included nurses actively serving in inpatient wards for >= 6 months who consented to participate; nurses on administrative leave or student nurses were excluded. Data were collected using three validated instruments: a 30-item patient safety knowledge questionnaire (Cronbach's alpha = 0.83), a 25-item attitude scale (Cronbach's alpha = 0.81), and the Hospital Survey on Patient Safety Culture version 2.0 (HSOPSC v2.0; Cronbach's alpha = 0.87). Data were collected from September 1 to October 31, 2025. Ethical clearance was obtained from the Health Research Ethics Committee, Universitas Sumatera Utara (No. 451/TGL/KEPK FK USU/2025). Spearman rank correlation and multiple linear regression analysis were performed using SPSS version 26 (alpha = 0.05). Results: The majority of participants were female (69.4%), aged 31-40 years (43.5%), and had completed Bachelor of Nursing education (52.9%). Patient safety knowledge was predominantly in the adequate category (41.2%), with mean 72.4 +/- 11.8. Attitudes were predominantly positive (61.2%), with mean 74.6 +/- 9.3. Patient safety culture implementation was mostly in the adequate category (52.9%), with mean 71.8 +/- 10.5. Significant positive correlations were found between knowledge and PSC implementation (rs = 0.524; p < 0.001) and between attitude and PSC implementation (rs = 0.612; p < 0.001). Multiple regression revealed that both variables together explained 44.1% of variance in PSC implementation (R2 = 0.441; F = 32.33; p < 0.001). Conclusion: Both nurses' knowledge and attitudes toward patient safety are significantly associated with the implementation of patient safety culture. Attitude demonstrated a stronger association than knowledge. Hospital management should prioritize routine patient safety training and a culture-building approach to strengthen both cognitive and attitudinal dimensions of patient safety among inpatient nurses.
Model Pendampingan Keluarga Berbasis Cultural Midwifery dalam Pencegahan Postpartum Blues pada Ibu Nifas di Kecamatan Sibiru-Biru Kabupaten Deli Serdang Ruminta Sirait; Grace Mutiara
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Postpartum blues merupakan gangguan mood ringan hingga sedang yang dialami ibu pascapersalinan dengan prevalensi global mencapai 15–80%. Di Indonesia, angka kejadiannya dilaporkan berkisar 50–70%, namun belum banyak intervensi berbasis budaya lokal yang dikembangkan secara sistematis. Cultural Midwifery menawarkan pendekatan komprehensif yang mengintegrasikan praktik budaya Batak Toba ke dalam pelayanan kebidanan komunitas, khususnya melalui pemberdayaan keluarga sebagai sistem pendukung utama ibu nifas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas Model Pendampingan Keluarga Berbasis Cultural Midwifery terhadap pencegahan postpartum blues pada ibu nifas di Kecamatan Sibiru-Biru, Kabupaten Deli Serdang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pre-test post-test control group design. Sampel sebanyak 60 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terbagi dalam kelompok intervensi (n=30) dan kelompok kontrol (n=30). Instrumen pengukuran postpartum blues menggunakan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Intervensi berupa Model Pendampingan Keluarga Berbasis Cultural Midwifery yang dilaksanakan selama 14 hari pascapersalinan meliputi: edukasi keluarga, aktivasi dukungan kultural, pendampingan ritual tradisional, serta pemantauan berkala oleh bidan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test dan Mann-Whitney U Test. Hasil: Rerata skor EPDS kelompok intervensi menurun secara signifikan dari 10,73 ± 2,41 menjadi 5,17 ± 1,89 (p<0,001), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna (11,10 ± 2,28 menjadi 9,87 ± 2,16; p=0,142). Terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok pascaintervensi (p<0,001). Kejadian postpartum blues pada kelompok intervensi turun dari 73,3% menjadi 13,3%, sedangkan kelompok kontrol tetap tinggi (76,7% menjadi 63,3%). Kesimpulan: Model Pendampingan Keluarga Berbasis Cultural Midwifery terbukti efektif dalam mencegah dan menurunkan kejadian postpartum blues pada ibu nifas di Kecamatan Sibiru-Biru, Kabupaten Deli Serdang.
Model Pendampingan Keluarga Berbasis Cultural Midwifery dalam Pencegahan Postpartum Blues pada Ibu Nifas di Kecamatan Sibiru-Biru Kabupaten Deli Serdang Ruminta Sirait; Grace Mutiara
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.12618

Abstract

Latar Belakang: Postpartum blues merupakan gangguan mood ringan hingga sedang yang dialami ibu pascapersalinan dengan prevalensi global mencapai 15–80%. Di Indonesia, angka kejadiannya dilaporkan berkisar 50–70%, namun belum banyak intervensi berbasis budaya lokal yang dikembangkan secara sistematis. Cultural Midwifery menawarkan pendekatan komprehensif yang mengintegrasikan praktik budaya Batak Toba ke dalam pelayanan kebidanan komunitas, khususnya melalui pemberdayaan keluarga sebagai sistem pendukung utama ibu nifas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas Model Pendampingan Keluarga Berbasis Cultural Midwifery terhadap pencegahan postpartum blues pada ibu nifas di Kecamatan Sibiru-Biru, Kabupaten Deli Serdang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pre-test post-test control group design. Sampel sebanyak 60 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terbagi dalam kelompok intervensi (n=30) dan kelompok kontrol (n=30). Instrumen pengukuran postpartum blues menggunakan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Intervensi berupa Model Pendampingan Keluarga Berbasis Cultural Midwifery yang dilaksanakan selama 14 hari pascapersalinan meliputi: edukasi keluarga, aktivasi dukungan kultural, pendampingan ritual tradisional, serta pemantauan berkala oleh bidan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test dan Mann-Whitney U Test. Hasil: Rerata skor EPDS kelompok intervensi menurun secara signifikan dari 10,73 ± 2,41 menjadi 5,17 ± 1,89 (p<0,001), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna (11,10 ± 2,28 menjadi 9,87 ± 2,16; p=0,142). Terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok pascaintervensi (p<0,001). Kejadian postpartum blues pada kelompok intervensi turun dari 73,3% menjadi 13,3%, sedangkan kelompok kontrol tetap tinggi (76,7% menjadi 63,3%). Kesimpulan: Model Pendampingan Keluarga Berbasis Cultural Midwifery terbukti efektif dalam mencegah dan menurunkan kejadian postpartum blues pada ibu nifas di Kecamatan Sibiru-Biru, Kabupaten Deli Serdang.