Jalal
Social Investment Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Seeing Like James C. Scott: Dari Perlawanan Petani Hingga ‘Perlawanan’ Sungai Jalal
CANTING: Indonesian Community Development and Social Investment Journal Vol 1 No 2 (2026): Canting: Indonesian Community Development and Social Investment Journal
Publisher : PT Sahabat Investasi Indotama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64895/bgex1e64

Abstract

Tulisan ini mengulas secara komprehensif warisan intelektual James C. Scott dengan menelusuri benang merah pemikirannya, dari studi tentang ekonomi moral petani, infrapolitik, dan hidden transcripts, hingga kritik tajam terhadap negara modern dan high modernism. Melalui pembacaan atas karya-karya kuncinya, esai ini menunjukkan konsistensi Scott dalam membela pengetahuan lokal (métis) dan otonomi subsistensi. Analisis kemudian diperluas pada karya terakhir Scott, In Praise of Floods, yang memosisikan sungai dan banjir sebagai entitas ekologi politik yang ‘melawan’ Negara. Tulisan ini menegaskan relevansi pemikiran Scott bagi konteks Indonesia, terutama dalam isu agraria, pembangunan, dan pengelolaan sungai
Membalik Lensa CSV: Perspektif Perusahaan Komunitas tentang Nilai Bersama dalam Konteks Relasi dengan Perusahaan Besar di Indonesia Jalal; Wahyu Aris Darmono; Sonny Sukada
CANTING: Indonesian Community Development and Social Investment Journal Vol 1 No 3 (2026): Canting: Indonesian Community Development and Social Investment Journal
Publisher : PT Sahabat Investasi Indotama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64895/eexg1554

Abstract

Makalah ini melakukan kajian kritis atas konsep Creating Shared Value (CSV), terutama dari sudut pandang keadilan sosial, dengan cara membalik sudut pandang dominan yang berpusat pada perusahaan (perusahaan besar) menuju perspektif Perusahaan Komunitas (Community Enterprise/CE) dalam konteks relasi dengan perusahaan besar di Indonesia. Dengan mengulas kritik teoretis dan keadilan sosial atas CSV, tulisan ini menunjukkan bahwa makna 'nilai bersama' sesungguhnya tidak bersifat otomatis, simetris, maupun netral secara politis. Melalui pembacaan ulang tiga level strategi CSV—produk dan pasar, rantai nilai, serta pengembangan klaster lokal—dari lensa CE, artikel ini menyoroti asimetri kekuasaan, risiko ketergantungan, dan pengaburan isu struktural yang kerap tersembunyi di balik retorika 'nilai bersama'. Akhirnya, tulisan ini menegaskan pentingnya agensi komunitas, kepemilikan lokal, dan penentuan nilai secara bersama sebagai prasyarat CSV yang benar-benar transformatif. Dalam konteks Indonesia yang memiliki kerangka kelembagaan desa yang kuat---seperti Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan koperasi---peluang untuk mengembangkan model CSV yang berpusat pada komunitas terbuka lebar, asalkan disertai reformasi kebijakan dan penguatan kapasitas yang memadai.
Ketika Tanah Menentukan Nasib Bangsa: Resensi atas Land Power: Who Has It, Who Doesn't, and How That Determines the Fate of Societies karya Michael Albertus Jalal
CANTING: Indonesian Community Development and Social Investment Journal Vol 1 No 3 (2026): Canting: Indonesian Community Development and Social Investment Journal
Publisher : PT Sahabat Investasi Indotama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64895/df5z6r35

Abstract

This review examines Land Power: Who Has It, Who Doesn't, and How That Determines the Fate of Societies (2025) by Michael Albertus, a political scientist at the University of Chicago who has long studied the political economy of land redistribution. The book's central argument is that the way societies have distributed and redistributed land ownership over the past two centuries—a process Albertus calls the Great Reshuffle—has laid the foundation for four of the greatest social problems of our time: racial inequality, gender inequity, economic underdevelopment, and environmental degradation. Drawing on comparative historical analysis across regions from the United States and Latin America to South Africa, Australia, and East Asia Albertus demonstrates that land is not merely an economic resource but a fundamental instrument of power that shapes social, political, and ecological structures in deep and transgenerational ways. While the book represents an important synthetic contribution to the political economy of land, this review also identifies several limitations, including insufficient attention to the agency of dispossessed peoples and the notable absence of Southeast Asian cases, Indonesia in particular, that are highly relevant to Albertus's thesis.
Menimbang Klaim Hijau Kapitalisme Ekstraktif Pembacaan atas Extraction: The Frontiers of Green Capitalism Karya Thea Riofrancos (2025) Jalal
CANTING: Indonesian Community Development and Social Investment Journal Vol 1 No 4 (2026): Canting: Indonesian Community Development and Social Investment Journal
Publisher : PT Sahabat Investasi Indotama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64895/xnf7nc40

Abstract

Extraction: The Frontiers of Green Capitalism karya Thea Riofrancos melancarkan kritik secara fundamental atas narasi dominan yang membingkai transisi energi sebagai proses yang secara inheren ‘hijau’ dan berkelanjutan. Melalui riset etnografis multi-lokasi di Gurun Atacama (Chile), Nevada (Amerika Serikat), dan Portugal, Riofrancos mengungkap bagaimana penambangan litium—bahan baku utama baterai kendaraan listrik—justru mereproduksi logika kapitalisme ekstraktif di bawah label ramah lingkungan. Buku ini menelusuri secara kronologis evolusi historis rantai pasok mineral kritis sejak kolonialisme abad ke-16, kebijakan industrial hijau kontemporer di Amerika Serikat dan Uni Eropa, kebangkitan nasionalisme sumberdaya di negara-negara berkembang, serta perlawanan masyarakat adat dan aktivis lingkungan. Riofrancos berargumen bahwa transisi yang adil tidak dapat dicapai semata-mata melalui elektrifikasi status quo, melainkan memerlukan transformasi struktural yang fundamental: pengurangan permintaan material melalui transportasi massal, urbanisasi padat namun layak huni, daur ulang skala besar, dan demokratisasi tata kelola sumberdaya.  Buku ini menunjukkan bahwa ‘kapitalisme hijau’ sering kali hanya memindahkan beban ekologis dan sosial ke wilayah pinggiran, alih-alih menyelesaikannya. Buku ini dapat menjadi rujukan kritis bagi akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) pertambangan yang berupaya mewujudkan keberlanjutan perusahaan dengan melampaui narasi teknokratis dan profit-driven.