p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Ners
Nani Handayani
Universitas Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Temuan Inspeksi Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB) Terhadap Sarana Produksi Obat di Indonesia: Tinjauan Data 2020-2024 Nani Handayani; Tris Eryando
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.50790

Abstract

Industri farmasi memiliki peran strategis dalam sistem Kesehatan nasional dalam menjamin ketersediaan obat yang aman, bermutu dan berkhasiat. Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) merupakan standar yang wajib diterapkan di industri farmasi yang melakukan kegiatan pembuatan obat dan bertujuan memastikan mutu Obat yang dihasilkan sesuai persyaratan dan tujuan penggunannya. Badan POM memiliki tugas melakukan pengawasan terhadap pemenuhan CPOB. Data temuan inspeksi CPOB mencerminkan tingkat kepatuhan industri farmasi terhadap standar mutu pembuatan obat. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai data kepatuhan CPOB industri farmasi berdasarkan jumlah temuan dari tahun ke tahun, kelompok temuan aspek CPOB yang paling sering muncul dan kategori temuan (kritikal, mayor, minor). Metode penelitian menggunakan studi kuantitatif deskriptif dengan sumber data hasil inspeksi Badan POM Tahun 2020-2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah temuan terbanyak dan konsisten selama 5 tahun terkait dengan kondisi bangunan dan peralatan. Temuan kritis terbanyak mencakup ketidaksesuaian pelaksanaan produksi dan sistem mutu. Temuan mayor terbanyak terkait kualifikasi, validasi, dan kalibrasi, sementara temuan minor didominasi kondisi bangunan dan peralatan. Jumlah temuan kritis dan mayor meningkat dan temuan minor menurun, selaras dengan tindak lanjut inspeksi dimana pembinaan teknis cenderung menurun sementara sanksi peringatan keras dan penghentian sementara kegiatan terus meningkat.
Optimalisasi Peran Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) dalam Upaya Pencegahan Perilaku Berisiko Pada Remaja di DKI Jakarta Ariani Shinta Azzahra; Diara Oktania; Nani Handayani; Andang Evrilianto; Susanna Muthmainnah; Robbiyani Ilma; Masyitoh Masyitoh
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53484

Abstract

Adolescents are vulnerable to various risky behaviors, including violence. Although the Adolescent Health Care Program (PKPR) has been developed since 2003 and implemented in 44 community health centers in DKI Jakarta, this study aims to analyze the implementation of PKPR amid the surge in cases of adolescent violence to formulate efforts to optimize its role. To analyze the implementation and identify the challenges of PKPR in DKI Jakarta, as well as to formulate strategies to optimize the role of PKPR in reducing the surge in cases of violence and other risky behaviors among adolescents. This study uses a sequential exploratory mixed-methods study design, located at the DKI Jakarta Community Health Center. The data sources for this study come from primary data (structured questionnaires) and secondary data from official documents from the Health Office. A significant spike in the total number of violence cases was found in DKI Jakarta in 2024 (2084 cases), an increase of 215.8% from 2023. Victims aged 13-17 years were the highest group (552 victims), with boyfriends/girlfriends/friends experiencing a 312.7% spike (326 cases). This reinforces that PKPR has not been able to overcome classic implementation problems related to funding, facilities, and personnel. It is necessary to optimize the role of PKPR to overcome classic implementation problems and adapt to the handling of psychosocial violence cases. Key recommendations include improving health personnel training, providing facilities that ensure privacy and comfort for adolescents, and strengthening networks with schools and youth organizations.