p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Ners
Himalaya Wana Kelana
Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia, Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Literatur Review : Teknik Sterilisasi Kultur Jaringan Tanaman dalam Produksi Flavonoid Anisa Wulandari; Himalaya Wana Kelana; Syarif Hamdani
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.50824

Abstract

Permintaan flavonoid sebagai metabolit sekunder penting di bidang farmasi, pangan, dan kosmetik terus meningkat sehingga diperlukan alternatif produksi yang stabil dan berkelanjutan melalui kultur jaringan tanaman. Keberhasilan teknik ini sangat bergantung pada protokol sterilisasi eksplan yang efektif namun tidak menimbulkan fitotoksisitas. Artikel ini mereview berbagai teknik sterilisasi kultur jaringan pada beragam spesies dan jenis eksplan (biji, daun, nodus, akar, rimpang) serta menilai dampaknya terhadap viabilitas jaringan dan produksi flavonoid. Penelitian disusun dengan pendekatan literature review menggunakan kerangka PICOC. Data diperoleh dari ProQuest pada periode 2015–2025, diseleksi melalui kriteria inklusi–eksklusi, dan dianalisis secara sistematis sesuai alur PRISMA. Hasil menunjukkan bahwa protokol paling konsisten terdiri atas pra-pencucian dengan deterjen, perendaman etanol 70% singkat, dilanjutkan NaOCl aktif 1–2,5% selama 10–15 menit untuk jaringan sensitif atau larutan komersial NaOCl 15–30% (≈1–5% aktif) selama 10–20 menit untuk jaringan lebih tahan, kemudian bilasan steril 3–5 kali. Pada eksplan dengan tingkat kontaminasi tinggi seperti rimpang, tambahan povidone iodine atau nanopartikel perak terbukti efektif menekan mikroba tanpa menurunkan viabilitas. Sementara itu, HgCl₂ 0,1–0,2% masih digunakan dalam kasus sulit meskipun penggunaannya semakin terbatas karena risiko toksisitas. Secara keseluruhan, protokol berbasis NaOCl dengan konsentrasi terukur dan bilasan cukup merupakan pilihan paling aman, ekonomis, dan serbaguna untuk menghasilkan kultur bebas kontaminan sekaligus mempertahankan potensi biosintesis flavonoid.
Literature Review : Media Kultur Jaringan Tanaman Untuk Produksi Kuersetin Grace Ivana Clarissa; Himalaya Wana Kelana; Syarif Hamdani
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.50825

Abstract

Kuersetin merupakan senyawa flavonoid dengan aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan antikanker yang tinggi, namun produksinya dari tanaman konvensional terbatas oleh faktor musim, iklim, dan rendahnya akumulasi alami. Kultur jaringan tanaman menawarkan alternatif produksi kuersetin yang berkelanjutan dengan kontrol lingkungan optimal dan biosintesis metabolit sekunder yang dapat diinduksi. Penetapan jenis dan komposisi media kultur menjadi krusial karena media menentukan ketersediaan nutrisi, keseimbangan hormon, dan kondisi fisiologis yang mempengaruhi jalur biosintesis. Artikel ini merupakan literature review dengan kerangka PICOC menggunakan data tahun 2015–2025 yang dianalisis secara sistematis mengikuti alur PRISMA. Kajian ini menganalisis 32 studi untuk mengevaluasi pengaruh media kultur terhadap produktivitas kuersetin pada berbagai sistem kultur in vitro. Media Murashige-Skoog (MS) mendominasi 90,6% penelitian, dengan modifikasi ½ MS pada kultur hairy roots menghasilkan produktivitas tertinggi (48,24 mg/g DW pada Raphanus sativus). Media B5 menunjukkan keunggulan untuk spesies leguminosa dengan peningkatan kuersetin 5,03 kali lipat. Manipulasi konsentrasi sukrosa (30-45 g/L) dan suplementasi biostimulator menghasilkan akumulasi hingga 64,9 mg/g. Kultur hairy roots dan suspensi sel menunjukkan responsivitas tertinggi dengan rentang produktivitas 0,34-209,93 mg/g DW. Optimalisasi media untuk produksi kuersetin memerlukan pendekatan spesifik berdasar pada jenis tanaman, metoda kultur, dan jenis ekspan yang dipakai.