p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Ners
Andang Evrilianto
Universitas Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Optimalisasi Peran Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) dalam Upaya Pencegahan Perilaku Berisiko Pada Remaja di DKI Jakarta Ariani Shinta Azzahra; Diara Oktania; Nani Handayani; Andang Evrilianto; Susanna Muthmainnah; Robbiyani Ilma; Masyitoh Masyitoh
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53484

Abstract

Adolescents are vulnerable to various risky behaviors, including violence. Although the Adolescent Health Care Program (PKPR) has been developed since 2003 and implemented in 44 community health centers in DKI Jakarta, this study aims to analyze the implementation of PKPR amid the surge in cases of adolescent violence to formulate efforts to optimize its role. To analyze the implementation and identify the challenges of PKPR in DKI Jakarta, as well as to formulate strategies to optimize the role of PKPR in reducing the surge in cases of violence and other risky behaviors among adolescents. This study uses a sequential exploratory mixed-methods study design, located at the DKI Jakarta Community Health Center. The data sources for this study come from primary data (structured questionnaires) and secondary data from official documents from the Health Office. A significant spike in the total number of violence cases was found in DKI Jakarta in 2024 (2084 cases), an increase of 215.8% from 2023. Victims aged 13-17 years were the highest group (552 victims), with boyfriends/girlfriends/friends experiencing a 312.7% spike (326 cases). This reinforces that PKPR has not been able to overcome classic implementation problems related to funding, facilities, and personnel. It is necessary to optimize the role of PKPR to overcome classic implementation problems and adapt to the handling of psychosocial violence cases. Key recommendations include improving health personnel training, providing facilities that ensure privacy and comfort for adolescents, and strengthening networks with schools and youth organizations.
Implementasi Telemedicine di Wilayah Pasifik Barat: Scoping Review Tentang Tren, Tantangan, dan Implikasi Kebijakan Dari Negara-Negara Terpilih Ifa Nurul Utami; Vetty Yulianty Permanasari; Andang Evrilianto
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54226

Abstract

Wilayah Pasifik Barat (WPR), dengan karakteristik geografis yang menantang berupa kepulauan dan daerah terpencil, menghadapi kesenjangan akses layanan kesehatan yang signifikan. Telemedicine muncul sebagai solusi potensial, dengan akselerasi adopsi yang dipicu oleh pandemi COVID-19. Namun, implementasi yang berkelanjutan dan berkeadilan di kawasan ini masih menghadapi berbagai hambatan. Tinjauan scoping ini bertujuan untuk memetakan tren, tantangan, dan implikasi kebijakan telemedicine di negara-negara terpilih WPR dengan menganalisis 12 artikel penelitian yang relevan dari rentang tahun 2020-2025. Hasil tinjauan mengidentifikasi tren positif berupa diversifikasi model layanan (seperti internet hospital di China dan evolusi menuju virtual care di Australia) serta sikap yang umumnya positif dari tenaga kesehatan. Namun, tantangan mendasar tetap ada, meliputi kesenjangan infrastruktur digital (konektivitas internet), kerangka regulasi yang belum matang (terutama mengenai praktik dokter-pasien langsung, perlindungan data, dan pembiayaan), serta keterbatasan klinis akibat tidak adanya pemeriksaan fisik. Implikasi kebijakan yang diusulkan menekankan pada perlunya penguatan regulasi yang adaptif, investasi agresif dalam infrastruktur dan literasi digital, serta adopsi model layanan hibrida (hybrid care) yang memadukan layanan virtual dan tatap muka. Kesimpulannya, meskipun menjanjikan, telemedicine di WPR memerlukan pendekatan sistemik yang berfokus pada kesiapan sistem kesehatan, kolaborasi regional, dan kebijakan inklusif untuk mewujudkan potensinya dalam memperluas akses layanan kesehatan yang adil dan berkelanjutan.