Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Immune Response to Dengue Fever Infection in Endemic Areas of Lombok Barat Erlin Yustin Tatontos; Ersandhi Reshnleksmana; Urip
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 12 (2025): December
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i12.13163

Abstract

Dengue infection makes the body create immune responses, such as the formation of immunoglobulins. In Lombok Barat, 222 DHF cases with three fatalities are reported, with a CFR of 1.4%. The aim of this study was to determine the immune response to dengue fever in West Lombok. Analytical observational research method with cross-sectional study. Population included DHF patients in endemic areas of Lombok Barat, a total of 33 respondents suspected of dengue fever. Data on immune responses were gathered using dengue IgM and IgG tests. Respondent immune responses exhibited that 21.2% tested positive and 78.8% tested negative for IgM, while 63.6% tested positive and 36.4% tested negative for IgG. Statistical analysis of dengue fever infection with IgM using the Chi-square test obtained p = 0.049 <α = 0.05, while dengue fever infection with IgG was p = 0.113 > α = 0.05. The results of the analysis showed that there was a significant relationship between dengue fever infection and IgM test results, but there was no significant relationship between dengue fever infection and IgG test results. Most of the DHF infections in Lombok Barat were categorized as primary infections.
Pengaruh Frekuensi Kemoterapi Terhadap Nilai SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) Pada Pasien Yang Menjalani Kemoterapi IV Berbasis Antrasiklin Mira Pramesty Cahyaningtyas; Urip; Iswari Pauzi; Yunan Jiwintarum
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v5i1.287

Abstract

Latar Belakang: Kanker merupakan penyebab utama kematian global, dengan insiden tinggi di Indonesia, termasuk di Provinsi NTB. Kemoterapi berbasis antrasiklin, meskipun efektif, berpotensi menyebabkan hepatotoksisitas yang ditandai dengan peningkatan kadar Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT). Studi terdahulu menunjukkan hubungan antara kemoterapi dan kerusakan hati, namun penelitian spesifik mengenai pengaruh frekuensi siklus kemoterapi antrasiklin terhadap nilai SGPT masih terbatas. Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh frekuensi kemoterapi terhadap nilai SGPT pada pasien yang menjalani kemoterapi intravena berbasis antrasiklin. Metode Penelitian: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan Kohort historis dengan teknik samping jenuh pada pasien yang menjalani kemoterapi antrasiklin di RSUP NTB tahun 2024. Data nilai SGPT sebelum kemoterapi (siklus0) dan setelah siklus 1, 2 dan 3 kemoterapi dikumpulkan dari rekam medik, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik untuk membandingkan perbedaan bermakna antar-siklus. Hasil Penelitian: Didapatkan 20 pasien Ca. Ovarium yang memeuhi kriteria inklusi dan didata rata-rata nilai SGPT siklus 0 (27.8 U/L), siklus 1 (26.5 U/L), siklus 2 (22.4 U/L) dan siklus 3 (20.9 U/L). Berdasarkan uji statistik Friedman dengan tingkat kepercayaan 95%=(α=0.05) diatas diketahui nilai Sig.(2-Tailed) sebesar 0.976, karena Nilai Asymp. Sig. > 0.05 maka dapat ditarik kesimpulan tidak ada perbedaan signifikan antara nilai SGPT sebelum dan setelah melakukan kemoterapi antrasiklin. Kesimpulan: Tidak ada pengaruh signifikan antara nilai SGPT setelah melakukan kemoterapi antrasiklin mengindikasikan efek kumulatif terhadap hepatotoksisitas. Namun pemantauan fungsi hati secara berkala dan pertimbangan modifikasi dosis tetap perlu diperlukan untuk mengurangi risiko kerusakan hati.
Analisis Hasil Uji Silang Sediaan (Cross Check) Tuberkulosis Triwulan 1 dan Triwulan 2 2024 yang Dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Pengujian dan Kalibrasi Provinsi NTB Mayang Nur Mutmarnila; Fihiruddin; Yunan Jiwintarum; Urip
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v5i1.423

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular  yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan masih menjadi masalah kesehatan global, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memiliki beban kasus tinggi. Upaya peningkatan mutu pemeriksaan TB di fasilitas kesehatan dilakukan melalui kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal (PME) dengan metode uji silang (cross check) mikroskopis menggunakan aplikasi E-TBC 12. Tujuan: Mengetahui perbedaan hasil pembacaan (discordance) PME metode E-TBC 12 triwulan 1 dan 2 tahun 2024 antara fasilitas kesehatan (faskes) pengirim sediaan TB dengan Laboratorium Rujukan Intermediet (LRI) di Provinsi NTB, serta menganalisis kualitas pembuatan dan pembacaan sediaan. Metode: Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan desain deskriptif kuantitatif menggunakan data sekunder hasil PME uji silang metode Lot Quality Assurance System (LQAS) di Balai Laboratorium Kesehatan Pengujian dan Kalibrasi Provinsi NTB. Sampel penelitian adalah seluruh slide sediaan TB triwulan 1 dan 2 tahun 2024 yang memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan tabulasi dan persentase. Hasil: Cakupan faskes yang mengikuti uji silang pada triwulan 1 sebesar 77,87% dan triwulan 2 sebesar 80,33% (belum mencapai target ≥90%). Kinerja baik (tanpa kesalahan) pada triwulan 1 sebesar 96,84% dan triwulan 2 sebesar 99,99%. Kualitas pembuatan sediaan baik pada triwulan 1 sebesar 85,26% dan triwulan 2 sebesar 86,73%. Kualitas pembacaan baik pada triwulan 1 sebesar 96,27% dan triwulan 2 sebesar 94,50%. Kesimpulan: Cakupan uji silang belum memenuhi target nasional, meskipun kinerja baik dan kualitas sediaan berada di atas 85%.