Pola asuh menjadi tahapan penting dalam perkembangan seorang anak, sehingga keterlibatan kedua orang tua memiliki peran yang krusial dalam pola asuh. Di sisi lain peningkatan angka perceraian dan kematian ibu tercermin secara lokal di Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Terdapat 4.200 penduduk berstatus cerai, dan peningkatan sebanyak 18,8% kasus kematian ibu. Kondisi ini menyebabkan ayah perlu mengambil seluruh tanggung jawab pola asuh. Pola asuh ayah tunggal kepada anak perempuannya menciptakan dinamika baru dalam struktur keluarga. Penelitian ini melibatkan ayah tunggal sebagai informan utama dan anak perempuan, serta pihak yang memberi dukungan sebagai informan pendukung. Masing-masing kategori informan terdiri dari tiga individu. Identitas informan sepenuhnya dirahasiakan sesuai dengan etika penelitian. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui proses resiliensi, tantangan, dan strategi yang dilakukan ayah tunggal dalam pola asuh kepada anak perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, proses transisi yang dirasakan ayah tunggal menciptakan kebiasaan dan pola keseharian baru. Peran ganda menyebabkan ayah tunggal perlu membagi waktu antara urusan pekerjaan dan rumah tangga, sehingga pola asuh yang dilakukan ayah tunggal biasanya merujuk pada intensitas komunikasi dan quality time. Ayah tunggal juga mengalami tantangan menghadapi masa pubertas anak, tantangan ekonomi, dan sosial, sementara tantangan yang dirasakan anak perempuan cenderung dalam hal psikologis. Strategi yang digunakan ayah tunggal mengarah pada komunikasi terbuka, melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, serta menjaga keseimbangan Interaksi. Kemampuan ayah dalam membangun kondisi yang resilien berpengaruh pada pemaknaan anak perempuan tentang figur ayah sebagai orang tua tunggal.