Stunting tidak hanya dipengaruhi oleh asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan, tetapi juga oleh status gizi perempuan sebelum kehamilan, khususnya kadar hemoglobin pada masa remaja. Anemia defisiensi besi pada remaja putri berisiko berlanjut hingga masa kehamilan dan dapat menyebabkan gangguan fungsi plasenta, hambatan pertumbuhan janin, serta meningkatkan risiko stunting. Di Desa Sungaiselan Atas, Kabupaten Bangka Tengah, hasil skrining Puskesmas Sungaiselan pada Juli 2023 menunjukkan bahwa 33,3% remaja putri di SMAN 1 Sungaiselan mengalami anemia ringan hingga sedang. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya pengetahuan tentang pentingnya konsumsi tablet tambah darah (TTD), bahkan sebagian remaja membuang TTD karena efek samping tanpa memahami cara mitigasinya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan remaja tentang anemia dan kaitannya dengan stunting serta membentuk kader remaja melalui Program “Anemia Fighter” berbasis pendekatan peer education dan pelatihan keterampilan penyuluhan. Program dilaksanakan selama dua hari, 17 dan 20 Mei 2024, dengan melibatkan 30 remaja putri dan dievaluasi menggunakan desain pretest-posttest. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan rata-rata skor pengetahuan dari 5,90 ± 1,16 menjadi 7,93 ± 1,53 (mean difference = 2,03; t = 6,71; p < 0,001), dengan 90% peserta mengalami peningkatan skor dan seluruh peserta mampu melakukan simulasi penyuluhan sebaya. Program ini efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan edukasi, serta berpotensi direplikasi sebagai strategi upstream pencegahan stunting berkelanjutan melalui integrasi kader sekolah dan pemantauan kepatuhan TTD.