Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua proses yang saling berkaitan dalam membentuk individu secara utuh. Pertumbuhan mengacu pada perubahan fisik yang bersifat kuantitatif seperti peningkatan ukuran tubuh, berat badan, dan kekuatan fisik, sedangkan perkembangan bersifat kualitatif yang mencakup aspek kognitif, emosional, sosial, dan moral menuju kematangan individu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) yang bersumber dari berbagai literatur ilmiah relevan dalam sepuluh tahun terakhir. Analisis dilakukan melalui teknik analisis isi (content analysis) untuk mengidentifikasi konsep, teori, serta implikasi pertumbuhan dan perkembangan terhadap pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahap usia memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda, yaitu anak-anak (6–12 tahun) berada pada tahap berpikir konkret dan mulai belajar berinteraksi sosial, remaja (12–18 tahun) mengalami perubahan fisik pesat, mampu berpikir abstrak, dan sedang mencari jati diri, sedangkan dewasa awal (18–25 tahun) mencapai kematangan fisik dan emosional serta memiliki kemampuan berpikir reflektif dan mandiri. Implikasi dalam pendidikan menunjukkan pentingnya penyesuaian strategi pembelajaran berdasarkan tahap perkembangan peserta didik. Guru perlu menciptakan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan humanis untuk membantu peserta didik berkembang optimal. Dengan demikian, pemahaman terhadap pertumbuhan dan perkembangan menjadi landasan penting dalam menciptakan proses pendidikan yang efektif, holistik, dan berorientasi pada kemanusiaan. Oleh karena itu, temuan ini merekomendasikan perlunya pengintegrasian prinsip psikologi perkembangan dalam penyusunan kurikulum nasional serta penguatan pelatihan pedagogi bagi guru guna memastikan materi dan metode pengajaran selaras dengan kebutuhan peserta didik.