Persalinan dengan sectio caesarea terus meningkat dan berpotensi meningkatkan risiko infeksi luka operasi (ILO). Pemberian antibiotik profilaksis merupakan strategi utama untuk mencegah infeksi, namun pemilihannya harus mempertimbangkan efektivitas klinis dan efisiensi biaya. Evaluasi farmakoekonomi diperlukan untuk menentukan alternatif terapi yang paling efisien. Penelitian ini merupakan studi farmakoekonomi observasional analitik dengan pendekatan retrospektif menggunakan metode cost effectiveness analysis (CEA). Penelitian dilakukan di RS Hermina Banyumanik periode Januari–Desember 2024 menggunakan data rekam medis dan biaya medis langsung. Sampel sebanyak 64 pasien sectio caesarea primipara dipilih dengan teknik total sampling, terdiri dari kelompok cefazolin (n=17) dan ampicillin sulbactam (n=47). Parameter efektivitas meliputi kejadian infeksi luka operasi, lama rawat inap (LOS), dan penggunaan antibiotik oral tambahan. Analisis efektivitas biaya dihitung menggunakan Average Cost Effectiveness Ratio (ACER). Tidak ditemukan kejadian infeksi luka operasi pada kedua kelompok (100% efektif). Rata-rata biaya medis langsung kelompok cefazolin lebih rendah dibandingkan ampicillin sulbactam (Rp 1.617.055 vs Rp 1.629.094). Lama rawat inap kelompok cefazolin lebih singkat (3,35 vs 3,60 hari). Proporsi pasien tanpa antibiotik oral tambahan lebih tinggi pada kelompok cefazolin (23,53% vs 6,38%). Nilai ACER kelompok cefazolin lebih rendah dibandingkan ampicillin sulbactam. Cefazolin memiliki efektivitas klinis yang setara dengan biaya lebih rendah dibandingkan ampicillin sulbactam, sehingga merupakan alternatif antibiotik profilaksis yang lebih cost-effective pada pasien sectio caesarea primipara dari perspektif rumah sakit.