Batam memiliki posisi geostrategis tak tertandingi di jalur pelayaran internasional Selat Malaka, yang merupakan arteri utama perdagangan global yang dilewati oleh lebih dari 60.000 kapal niaga per tahun. Keunggulan geografis ini didukung oleh statusnya sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yang seharusnya memposisikan Batam sebagai regional trading hub. Namun, potensi ini terhambat oleh kesenjangan struktural yang signifikan, meliputi keterbatasan kapasitas fisik Pelabuhan Batu Ampar, inefisiensi non-fisik yang menyebabkan biaya logistik nasional tinggi (>23% dari PDB), serta rendahnya adopsi konsep Smart Port dan integrasi transportasi multimoda. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi optimalisasi komprehensif pada lima pilar: infrastruktur, digitalisasi, konektivitas, kebijakan, dan SDM, guna mendongkrak daya saing Batam secara fundamental di kawasan Asia Tenggara.Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed methods (metode campuran) yang terintegrasi, dengan kombinasi analisis kuantitatif (survei, statistik deskriptif efisiensi operasional) dan kualitatif (wawancara mendalam, analisis tematik, SWOT, dan GAP Analysis). Temuan kunci menunjukkan bahwa meskipun modernisasi parsial telah meningkatkan produktivitas crane Batu Ampar hingga \approx 35 kontainer per jam, masih terdapat GAP Tinggi dibandingkan pelabuhan pesaing regional (standar >60 kontainer per jam), terutama dalam hal dwelling time dan integrasi sistem digital penuh (Port Community System). Strategi yang direkomendasikan berpusat pada Investasi Dual: (1) Modernisasi fisik dan implementasi Smart Port (Fase 1-3), (2) Reformasi tata kelola melalui harmonisasi regulasi dan digitalisasi perizinan terpadu (INSW), serta (3) Pembangunan kawasan logistik terintegrasi (integrated logistics hub) untuk menarik kegiatan transshipment. Kontribusi penelitian ini adalah memberikan panduan strategis yang terukur bagi otoritas (BP Batam dan Pelindo) untuk mentransformasi Batam menjadi pusat perdagangan internasional yang berdaya saing tinggi.