Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Hubungan Usia, Masa Kerja Dan Tingkat Pendidikan Terhadap Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri Pada Tenaga Kerja Bongkar Muat (Studi Kasus Di Pelabuhan Umum Gresik) Shalsa Dhela Putri Rahayu; Bugi Nugraha; Eddi Eddi; Anjar Pamungkas
Management Studies and Entrepreneurship Journal (MSEJ) Vol. 7 No. 3 (2026): Management Studies and Entrepreneurship Journal (MSEJ)
Publisher : Yayasan Pendidikan Riset dan Pengembangan Intelektual (YRPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/msej.v7i3.10542

Abstract

Kegiatan bongkar muat di pelabuhan memiliki potensi risiko kecelakaan kerja yang tinggi, sehingga penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melalui penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) dalam penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), serta menganalisis hubungan karakteristik tersebut dengan kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode observasional deskriptif dan desain cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pada 50 responden. Data dianalisis secara deskriptif dan frekuensi kemudian dilanjutkan dengan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) berusia lebih dari 25 tahun, memiliki masa kerja lebih dari 5 tahun, dan tingkat pendidikan didominasi lulusan Sekolah Dasar. Tingkat kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) berada pada kategori tinggi. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value = 0,352 (p > 0,05) yang berarti tidak terdapat hubungan signifikan antara usia dengan kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Nilai p-value = 0,017 (p < 0,05) menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara masa kerja dengan kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), serta nilai p-value = 0,046 (p < 0,05) menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) dengan masa kerja lebih lama dan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung lebih patuh dalam menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengawasan, penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) yang layak, serta pelatihan keselamatan kerja berkelanjutan untuk menurunkan risiko kecelakaan kerja.
Analisis Penyebab Cargo Off Spec pada Muatan Biosolar (B40) dengan Fishbone Analysis: (Studi Kasus: MT. Gunung Kemala) Dinar Islami Rachmayanti; Muhammad Imam Firdaus; Bugi Nugraha; Dety Sutralinda
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 2 No. I (2023): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i1.1440

Abstract

Penggunaan bahan bakar alternatif berbasis sumber daya alam terbarukan telah menjadi salah satu langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Salah satu bentuk nyata dari komitmen tersebut adalah penggunaan Biosolar (B40) yang merupakan campuran antara 40% FAME (Fatty Acid Methyl Ester) dan 60% Solar. Namun dalam operasional pelayaran, sering dijumpai kasus cargo off spec, yaitu penyimpangan mutu muatan yang tidak lagi memenuhi standart kualitas. Masalah ini berdampak besar, baik secara finansial, hukum, maupun reputasi Perusahaan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui: 1) Apa saja faktor-faktor penyebab terjadinya cargo off spec di kapal MT. Gunung Kemala 2) Bagaimana upaya pencegahan yang harus dilakukan untuk menghindari cargo off spec di kapal MT. Gunung Kemala. Penelitian ini menggunakan metode fishbone analysis sebagai teknik analisis data untuk mencari permasalahan secara mendalam. Berdasarkan analisis faktor penyebab cargo off spec di MT. Gunung Kemala antara lain usia kapal yang sudah tua mempengaruhi kondisi tangki, sifat muatan Biosolar (B40) yang sensitif, kondisi lingkungan seperti cuaca dan perubahan suhu yang tidak stabil, serta operasi intertank yang meningkatkan risiko pencampuran sludge ke cargo. Upaya yang dapat dilakukan agar kejadian tersebut tidak terjadi kembali adalah dengan menerapkan jadwal tank inspection, pengendalian udara (oxygen exclusion), optimalisasi kinerja sistem ventilasi (optimalized venting system), pemanfaatan P/V Valves, pengambilan sampel dan pengujian, serta pelatihan awak kapal. Hasil penelitian menyatakan bahwa faktor utama penyebab cargo off spec pada muatan Biosolar (B40) akibat degradasi kondisi fisik tangki cargo yang secara langsung dipengaruhi oleh usia kapal (ageing factor), selain itu karakteristik Biosolar (B40) yang higroskopis, serta potensi degradasi selama proses intertank turut menjadi faktor pendukung terjadinya cargo off spec.
Analisis Pengaruh Penerapan Safety Observation Card (Soc) Terhadap Persepsi Tingkat Kecelakaan Kerja di Kapal PT Meratus Line Naurah Maryam Kaltsum; Romanda Annas Amrullah; Ita Masita; Bugi Nugraha
Management Studies and Entrepreneurship Journal (MSEJ) Vol. 7 No. 5 (2026): Management Studies and Entrepreneurship Journal (MSEJ)
Publisher : Yayasan Pendidikan Riset dan Pengembangan Intelektual (YRPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/msej.v7i5.11108

Abstract

Minimnya kesadaran crew kapal yang menyebabkan masih terdapat insiden kecelakaan kerja terhadap kondisi dan tindakan tidak aman, serta penerapan SOP yang belum optimal dalam aktivitas operasional, membuktikan pentingnya penerapan SOC dalam mendukung implementasi ISM Code dalam mendukung penurunan tingkat kecelakaan kerja diatas kapal. Penelitian ini menganalisis pengaruh penerapan Safety Observation Card (SOC) terhadap persepsi tingkat kecelakaan kerja di kalangan crew kapal milik PT. Meratus Line. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dan eksplanatori dengan desain regresi linier sederhana untuk menguji hubungan kausal antara penerapan SOC (variabel independen) dan persepsi tingkat kecelakaan kerja (variabel dependen). Populasi terdiri dari seluruh crew yang terlibat dalam penggunaan SOC, dengan sampel 76 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan kriteria masa kerja minimal enam bulan dan pengalaman mengisi SOC. Data primer dikumpulkan menggunakan kuesioner berskala Likert (1–5) dan didukung dokumen laporan SOC, lalu dianalisis secara deskriptif dan dengan regresi linier sederhana melalui SPSS. Hasil menunjukkan penerapan SOC berada pada kategori sangat baik (mean 4.33), sedangkan persepsi terhadap tingkat kecelakaan kerja tergolong rendah (mean 1.629). Hasil regresi menunjukkan pengaruh negatif signifikan (R² = 0,574), artinya peningkatan penerapan SOC menurunkan persepsi tingkat kecelakaan kerja.