Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan guru dan siswa terhadap pembelajaran REACT (Relating Experiencing Applying Cooperating Transfering). Peningkatan mutu pendidikan formal menjadi isu mendesak, yang sangat ditentukan oleh efektivitas proses pembelajaran dikelas. Analisis kebutuhan, yang melibatkan observasi kelas dan wawancara, mengidentifikasi permasalahan krusial. Proses pembelajaran IPA didominasi oleh metode ceramah konvensional tanpa variasi media dan sumber belajar yang digunakan guru masih menggunakan buku paket dan LKS seadanya tanpa ada inovasi baru yang lebih menarik, sehingga bersifat monoton dan membosankan. Kondisi ini menyebabkan siswa cenderung pasif, kurang eksplisit dalam bertanya atau berpendapat, dan sulit fokus. Jenis penelitian yang di gunakan adalah analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi kelas serta wawancara guru dan siswa. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan analisis data Model Miles dan Hubberman melalui tiga tahapan, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Subjek penelitian ini yaitu guru IPA dan peserta didik MTs Negeri 1 Lubuklinggau yang berjumlah 37 siswa. Berdasarkan hasil observasi, diperoleh data sebesar 42,85% yang dikategorikan kurang dalam penerapan pembelajaran. Guru berperan sebagai fasilitator, sehigga aktivitas dan partisifasi siswa kurang aktif. Solusi yang diajukan adalah penerapan model pembelajaran yang inovatif seperti model pembelajaran REACT (Relating Experiencing Applying Cooperating Transfering) yang menuntut siswa menemukan konsep secara mandiri melalui keterlibatan pengalaman dan menciptakan lingkungan belajar yang interatif dan berpusat pada siswa. Diharapkan model ini dapat mengubah paradigma pembelajaran, sehingga lebih menyenangkan, efektif dan mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan.