Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit infeksi yang umum terjadi di Indonesia, merupakan 10 penyakit terbanyak yang terjadi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Cilacap. Salah satu masalah dalam penanganan ISPA adalah pemberian antibiotik tanpa indikasi yang tepat, dosis yang tidak sesuai, serta penggunaan tanpa resep dokter. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko resistensi antibiotik. ISPA adalah satu dari penyakit dimana menimbulkan mortalitas maupun morbiditas, terutama pada anak-anak dan lansia. Pemberian edukasi mengenai cara penggunaan antibiotik yang benar dan pencegahan terjadinya infeksi menjadi hal yang sangat penting. Untuk mencegah dan menghindari resistensi pada penggunaan antibiotika maka diperlukan edukasi/informasi yang berhubungan dengan cara penggunaan antibiotika yang benar agar masyarakat memahami tentang penggunaan antibiotika yang tepat dan rasional, serta pemberian edukasi terkait efek samping yang bisa di timbulkan dengan penggunaan antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penggunaan antibiotik pada pasien ISPA rawat jalan di UOBF Puskesmas Jeruklegi I Cilacap tahun 2024. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif, dengan jenis penelitian non-eksperimental. Perlakuan terhadap subyek uji dengan rancangan analisa secara deskriptif analitik. Populasi dalam penelitian ini adalah peresepan antibiotik pada pasien ISPA pelayanan rawat jalan dengan di Instalasi Farmasi UOBF Puskesmas Jeruklegi I bulan Januari sampai dengan Desember Tahun 2023 sebanyak 95 resep pasien ISPA yang menggunakan terapi antibiotik. Analisis data sekunder dari resep pasien periode Januari–Desember 2023. Hasil dari 95 data pasien yang dianalisis, mayoritas pasien yang menerima antibiotik berada dalam kelompok usia dewasa (35,79%), diikuti oleh pra-lansia (25,26%) dan lansia (24,21%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah antibiotik yang paling sering diresepkan yaitu ciprofloxacin (54,74%), amoxicillin (28,42%) dan cefadroxil (16,84%) dengan lama pemakaian 5 hari. Semua antibiotik diberikan dalam bentuk tablet atau kapsul dengan dosis 500 mg. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dalam meningkatkan kepatuhan terhadap standar pengobatan dan mencegah resistensi antibiotik.