Yenry Anastasia Pellondou
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

SOCIAL ETHICS IN SOCIAL MEDIA USE: CHALLENGES AND SOLUTIONS IN THE DIGITAL ERA Dian, Dian Enjeli Taneo; Aptist Yantia Kartini Teresia Sole; Betryani Rabeka Penna; Dina Yanti Lassa; Charles Marten Luter Tallan; Demest Seo; Yenry Anastasia Pellondou
Indonesian Journal of Social Science and Education (IJOSSE) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol 2 No 1: Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijosse.v2i1.2003

Abstract

Kemajuan yang cepat di bidang teknologi digital telah menjadikan jaringan sosial sebagai alat utama bagi orang-orang untuk berbicara, berbagi informasi, dan membangun hubungan tanpa batasan waktu atau tempat. Jaringan sosial menawarkan berbagai keuntungan, seperti mempercepat penyebaran informasi, mempermudah hubungan antar individu, serta mendukung berbagai aktivitas dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan hiburan. Namun, di balik kemudahan ini terdapat tantangan etika sosial yang kompleks akibat penggunaan media sosial, yang perlu ditangani dengan serius. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki berbagai tantangan etika sosial yang muncul terkait dengan pemakaian media sosial dan merumuskan solusi yang dapat dilaksanakan oleh individu, masyarakat, institusi pendidikan, pemerintah, serta penyedia platform media sosial. Penelitian ini menerapkan metode tinjauan pustaka, mengacu pada cara yang diterapkan untuk menggali informasi dan pengetahuan yang bersumber dari referensi buku, jurnal dan artikel yang relevan dengan etika komunikasi serta pemanfaatan media sosial pada era digital. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya tantangan dalam etika sosial yang paling penting dalam media sosial meliputi penyebaran informasi yang tidak benar serta hoaks, anonimitas yang mengurangi rasa tanggung jawab, meningkatnya ujaran kebencian dan perundungan siber, serta hilangnya rasa empati dalam komunikasi digital. Banyak pengguna media sosial yang tidak menyadari bahwa tindakan mereka, serta unggahan dan komentar yang dibuat, dapat berdampak pada orang lain dan masyarakat secara umum. Untuk mengatasi masalah tersebut, penelitian ini memberikan beberapa rekomendasi, termasuk meningkatkan literasi digital melalui pendidikan media sejak usia dini, menerapkan kebijakan ketat terhadap perilaku tidak etis di media sosial, dan meneguhkan nilai empati serta tanggung jawab dalam dunia digital.
DAMPAK MEDIA SOSIAL TERHADAP ETIKA SOSIAL GENERASI Z Virgo, Virgodiman Sine; Tiwi Mita Marliana Penu; Wendi Musa Robo; Vebriance Dima; Yanuarius Bria; Yenry Anastasia Pellondou
Indonesian Journal of Social Science and Education (IJOSSE) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol 2 No 1: Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijosse.v2i1.2026

Abstract

Perkembangan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi, khususnya melalui media sosial, telah mengubahcara individu melakukan interaksi dan komunikasi satu samalain. Media sosial mempercepat dan memperluas interaksi, tetapi juga membawa berbagai tantangan yang berkaitandengan etika dan moralitas di dunia digital. Generasi Z,yangtumbuh di era digital,memiliki kemampuan teknologi yang tinggi, tetapi ada risiko kehilangan nilai-nilai sosial dan etika. Situasi ini memerlukan sebuah pendekatan mendalam untukmenilai dampak jangka panjangnya. Penelitian inimenggunakan metode kualitatif dengan menganalisis literaturdari berbagai jurnal dan artikel akademis guna memahamifenomena sosial, norma komunikasi, serta nilai moral yang berkaitan dengan penggunaan media sosial di kalanganGenerasi Z. Media sosial memberikan peluang untuk terlibat dalaminteraksi sosial, namun juga menciptakan masalah sepertiperubahan identitas online, tekanan mental, perasaan takutketinggalan (FOMO), perundungan daring, dan informasiyang salah. Berbagai persona di dunia maya dan pengelolaancitra diri menantang pengembangan karakter individu. Selainitu, media sosial juga menciptakan norma komunikasi baruyang perlu diteliti secara mendalam. Oleh karena itu, pengaruhnya terhadap etika sosial bagi Generasi Z menjadisangat kompleks. Dengan demikian, penting untukmenanamkan nilai-nilai moral melalui pendidikan yang menggabungkan prinsip etika universal dan keterampilandigital, serta membangun ekosistem pembelajaran yang terstruktur untuk membentuk karakter dengan tanggung jawabsosial. Masa depan Generasi Z sebagai agen perubahan yang beretika akan sangat bergantung pada sistem pendidikan dan strategi yang efektif.
SOCIAL ETHICS AND DEVIANT BEHAVIOR: A SOCIAL PSYCHOLOGICAL REVIEW OF THE PHENOMENON OF BULLYING Sonia Armeliana Mnir; Sisilia Susana Naklui; Sonia, Sumari Novika Manao; Susanti Tabun; Thimotius Nau; Tirsa Tapatab; Yenry Anastasia Pellondou
Indonesian Journal of Social Science and Education (IJOSSE) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol 2 No 1: Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijosse.v2i1.2070

Abstract

Bullying merupakan bentuk perilaku menyimpang yang melanggar etika sosial dan menimbulkan dampak serius terhadap korban, pelaku, maupun lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis fenomena bullying dari perspektif psikologi sosial dengan fokus pada pelanggaran etika sosial yang mendasarinya. Menggunakan metode studi literatur, penelitian ini mengkaji 21 sumber akademik terkini (publikasi 2023-2025) termasuk jurnal ilmiah, laporan pengabdian kepada masyarakat, dan hasil penelitian empiris tentang bullying di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa bullying merupakan manifestasi dari lemahnya internalisasi nilai-nilai etika sosial seperti empati, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama. Faktor-faktor penyebabnya meliputi lingkungan keluarga yang tidak harmonis, pengaruh teman sebaya yang negatif, paparan media massa, lemahnya sistem sekolah, dan ketimpangan status sosial. Dampak psikologis yang ditimbulkan mencakup kecemasan (34,72%), rendah diri (27,46%), depresi (22,28%), hingga trauma berkepanjangan (15,54%). Penelitian di MTs Negeri Ambon menunjukkan bullying verbal (35,75%) sebagai bentuk yang paling dominan. Pencegahan bullying memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan penguatan etika komunikasi, pendidikan karakter berbasis nilai moral, dan kolaborasi multipihak antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Integrasi teori psikologi sosial seperti Social Learning Theory, Teori Perkembangan Moral Kohlberg, Teori Asosiasi Diferensial, dan Teori Identitas Sosial menjadi landasan penting dalam merancang strategi intervensi yang efektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman etika sosial yang kuat menjadi fondasi penting dalam mencegah perilaku menyimpang dan menciptakan lingkungan sosial yang sehat dan harmonis.
Membangun Pemahman yang Koheren mengenai Iman Kristen kepada Generasi Milenial di Era Digital Merfin Bengkiuk; Margareth Julia Malelak; Margarita Tenis; Marni Tauho; Yenry Anastasia Pellondou
JUITAK: Jurnal Ilmiah Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 1 (2026): JUITAK - MARET
Publisher : PT. Penerbit Tiga Mutiara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61404/juitak.v4i1.465

Abstract

Massive digital transformation has reshaped patterns of interaction, modes of thinking, and the spiritual construction of the millennial generation, thereby creating serious challenges for the church in nurturing a mature, authentic, and contextually relevant Christian faith. The abundance of information, instant culture, and growing skepticism toward religious institutions raise a critical research problem concerning how to formulate effective strategies to develop a theologically sound understanding of faith that is also adaptive to digital culture. This study aims to construct a strategic approach that bridges faith tradition and digital dynamics through a qualitative-reflective method based on recent theological literature and critical observation of digital ministry practices. The analysis identifies four primary strategies: contextual proclamation of faith, optimization of digital platforms as spaces for testimony and education, formation of supportive online communities, and strengthening digital and theological literacy among church leaders. The findings indicate that millennials possess a deep spiritual longing but seek integrity, open dialogue, and practical relevance of faith in daily life. The study concludes that a paradigmatic transformation of church ministry is necessary by positioning digital space as a participatory and dialogical locus of spiritual formation, while the novelty of this research lies in the systematic integration of theological reflection and contextual digital pastoral strategies as an adaptive ministry model for the millennial generation in the era of technological disruption.
Makna Teologis dan Nilai Antropologis Tradisi Natoni dalam Kehidupan Masyarakat Kristen Veren Veronika Manu; Yohana Angelina Pobas; Yusmin Tapeun; Jello Ottu; Yenry Anastasia Pellondou
JUITAK: Jurnal Ilmiah Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 1 (2026): JUITAK - MARET
Publisher : PT. Penerbit Tiga Mutiara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61404/juitak.v4i1.468

Abstract

The Natoni tradition, as an oral cultural heritage of the Timorese community, embodies religious and social dimensions that reflect the relationship between Christian faith and local wisdom. However, the currents of modernization and shifts in the lifestyle of younger generations have led to a diminishing understanding of its symbols, ritual language, and moral messages, thereby placing its existence at risk of marginalization. This study addresses the question of how the theological meaning and anthropological values of Natoni are understood and actualized within Christian communities, and to what extent this tradition contributes to the formation of faith identity and social cohesion. A descriptive qualitative approach was employed, utilizing in-depth interviews, participatory observation, and document analysis to obtain a comprehensive understanding of the practice and its meanings. The findings reveal that Natoni functions as a contextual medium of prayer, a means of internalizing faith teachings, a bond of communal solidarity, and a vehicle for transmitting values of respect, responsibility, and intergenerational togetherness. The tradition provides an integrative space between incarnational theology and local cultural realities, thereby enriching contextual expressions of Christian spirituality. The study concludes that the revitalization of Natoni requires synergy among the church, traditional leaders, families, and educational institutions to ensure its continued relevance and responsiveness to contemporary challenges. The novelty of this research lies in its simultaneous integration of theological and anthropological analyses of Natoni as a contextual praxis of faith rather than merely a cultural phenomenon, thus offering a conceptual contribution to the development of Indonesian contextual theology.