ABSTRAK Pabrik roti X menghadapi permasalahan dalam pengelolaan persediaan tepung terigu sebagai bahan baku utama akibat sistem pemesanan yang masih dilakukan secara manual dan berdasarkan perkiraan. Hal ini menyebabkan ketidakefisienan dan pemborosan biaya persediaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengoptimalkan pengendalian persediaan tepung terigu dengan menerapkan metode Economic Order Quantity (EOQ), serta membandingkannya dengan metode konvensional yang telah digunakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan rumus EOQ, Safety Stock, dan Reorder Point. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode konvensional perusahaan melakukan pemesanan sebanyak 24 kali dalam setahun, dengan rata-rata pemesanan sebesar 2.960 kg tepung terigu. Sementara penerapan metode EOQ menghasilkan jumlah pemesanan optimal sebesar 10.739 kg dengan frekuensi 7 kali per tahun, menurunkan total biaya persediaan sebesar 49% dari Rp 6.456.684 menjadi Rp. 3.307.824, dengan Safety Stock sebesar 317 kg dan ROP sebesar 773 kg. Dengan terjadinya penurunan total biaya inventory (TIC) menunjukkan bahwa penggunaan metode EOQ mampu meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Selain itu, dengan adanya penetapan jumlah safety stock (SS) mampu menjamin ketersedian bahan baku tepung terigu, mengeliminir terjadinya stockouts. Kata Kunci: economic order quantity, reorder point, safety stock, total inventory cost ABSTRACT Analysis of Primary Raw Material Inventory in Bread Production Using the Economic Order Quantity (EOQ) Method (Case Study: Bakery Factory X). Bakery Factory X experiences inefficiencies in managing wheat flour inventory as its primary raw material due to a manual and estimation-based ordering system, resulting in excess or insufficient and increased inventory costs. This study aims to analyze and optimize wheat flour inventory control by implementing the Economic Order Quantity (EOQ) method and comparing it with the conventional method used by the company. A descriptive quantitative approach was employed, with data collected through observation, interviews, and documentation. The analysis utilized EOQ, Safety Stock, and Reorder Point calculations. The results show that the conventional method involves 24 orders per year with an average order quantity of 2,960 kg, whereas the EOQ method yields an optimal order quantity of 10,739 kg with an ordering frequency of 7 times per year. The implementation of EOQ reduces total inventory costs by 49%, from IDR 6,456,684 to IDR 3,307,824, with a safety stock of 317 kg and a reorder point of 773 kg. These findings indicate that the EOQ method significantly improves inventory efficiency and enhances the company’s financial performance by ensuring raw material availability and minimizing the risk of stockouts. Keywords: economic order quantity, reorder point, safety stock, total inventory cost