Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

HUBUNGAN USIA DENGAN KEJADIAN PTERIGIUM DI RUMAH SAKIT MATA KOTA MAKASSAR TAHUN 2025 Syarifa Trya Nur Nahdiah; Marlyanti Nur Rahmah Akib; Ratih Natasha Maharani; Tiradewi Bustami; Azizah Anoez; Diah Tantri Darkuthni
The Indonesian Journal of General Medicine Vol. 29 No. 1 (2026): The Indonesian Journal of General Medicine
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/8mz7pk97

Abstract

Latar belakang: Gangguan kesehatan mata merupakan masalah kesehatan global, dengan sekitar 285 juta orang mengalami gangguan penglihatan menurut World Health Organization (WHO). Pterigium adalah salah satu penyakit mata yang sering ditemukan di wilayah tropis dan subtropis dan dapat menurunkan kualitas penglihatan. Usia dan jenis kelamin diduga berperan dalam kejadian pterigium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia dan jenis kelamin dengan kejadian pterigium di Rumah Sakit Mata Kota Makassar tahun 2025. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif menggunakan data sekunder rekam medis pasien Poliklinik Mata RS Mata Makassar tahun 2025. Sampel diambil dengan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi. Variabel independen adalah usia yang dikelompokkan menjadi dewasa muda (18–44 tahun), dewasa (45–59 tahun), dan lanjut usia (≥60 tahun), sedangkan variabel dependen adalah kejadian pterigium. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Dari total 8.663 pasien, sebanyak 748 pasien (8,6%) terdiagnosis pterigium. Kelompok usia lanjut (≥60 tahun) merupakan kelompok dengan jumlah kasus terbanyak (43,2%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara usia dan jenis kelamin dengan kejadian pterigium (p<0,05), dengan proporsi lebih tinggi pada laki-laki dan meningkat seiring bertambahnya usia. Kesimpulan: Usia dan jenis kelamin berhubungan secara bermakna dengan kejadian pterigium, dengan risiko tertinggi pada kelompok usia lanjut dan pasien laki-laki, sehingga diperlukan upaya promotif dan preventif yang lebih terarah pada kelompok berisiko.