AbstrakSalah satu kabupaten yang berada di WPP 572 adalah kabupaten Aceh Barat dengan manyoritas sebagai nelayan tradisional sebagai pelaku usaha penangkapan ikan salah satunya adalah Desa Ujong Drien. Kelompok nelayan tradisional Desa Ujong Drien melakukan penangkapan ikan di perairan dibawah 12 mil laut, sehingga hasil tangkapan ikan yang diperoleh relatif kecil jika dibandingkan dengan kapal perikanan yang berukuran <5 GT melakukan penangkapan ikan di perairan laut lepas. Selama ini kelompok nelayan tradisional Desa Ujong Drien masih menggunakan alat tangkap sederhana untuk penangkapan ikan demersal yaitu dengan hand line dan gill net, sehingga nelayan tersebut memerlukan waktu yang lama untuk melakukan operasional penangkapan ikan, hasil tangkapan yang belum pasti dan dapat meningkatkan penggunaan BBM. Oleh karena itu perlu adanya teknologi BuDarJan (Bubu Dasar Jaring) untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan demersal. Metode pelaksanaan kegiatan yaitu dengan pendidikan melalui penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan mulai dari memberikan sosialisasi dan edukasi, pelatihan pembuatan BuDarJan, dan monitoring hasil kegiatan. Adanya ketertarikan nelayan tradisional Desa Ujong Drien yaitu sebanyak 36 dari 40 nelayan untuk menggunakan teknologi BuDarjan sebagai alat penangkapan utama untuk menangkap ikan demersal. Hasil pelaksanaan monitoring dan evaluasi terjadi peningkatan pengetahuan sebanyak 75% dan 85% peningkatan ketrampilan dalam pembuatan teknologi BuDarJan sebanyak 40 nelayan sebagai penerima manfaat langsung. Kata kunci: budarjan; keterampilan; nelayan tradisional; peningkatan. AbstractOne of the districts in WPP 572 is West Aceh, with a majority of traditional fishermen as fishing business actors, one of which is Ujong Drien Village. The traditional fishing group of Ujong Drien Village catches fish in waters below 12 nautical miles, so the fish catch obtained is relatively small when compared to fishing vessels measuring <5 GT that catch fish in open sea waters. So far, the traditional fishing group of Ujong Drien Village still uses simple fishing gear for catching demersal fish, namely hand lines and gill nets, so that these fishermen need a long time to carry out fishing operations, the catch is uncertain, and fuel consumption can increase. Therefore, it is necessary to have BuDarJan (Net Bottom Trap) technology to increase demersal fish catches. The implementation method is educational through outreach, training, and mentoring. This includes outreach and education, training on creating BuDarJan, and monitoring the results of the activities. There is interest from traditional fishermen of Ujong Drien Village, namely 36 out of 40 fishermen, in using BuDarjan technology as the main fishing tool for catching demersal fish. Monitoring and evaluation results showed a 75% increase in knowledge and an 85% increase in skills in using BuDarJan technology for 40 fishermen, who directly benefited. Keywords: budarjan; skills; traditional fishermen; improvement.