Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Identitas Kuliner Digital Melalui Food Porn: Meta-Analisis Tren dan Kesenjangan Teori Fazrin, Farah Azirinda; Auralaila, Deavenue; Suharto, Bambang
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 6 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i6.9639

Abstract

Evolusi pesat media digital telah merevolusi cara masyarakat berinteraksi dengan makanan, mengangkatnya dari kebutuhan biologis menjadi simbol identitas budaya dan sosial. Fenomena “food porn” representasi visual makanan yang estetis dan menggugah selera kini menjadi bagian integral budaya kuliner digital di platform seperti Instagram dan TikTok, sehingga konsumsi makanan berlangsung secara visual serta memengaruhi pembentukan identitas kuliner individu maupun kelompok. Namun, studi terkait food porn masih terfragmentasi dan belum sepenuhnya mengintegrasikan konsep hiperrealitas, estetisasi, dan dinamika sosial-budaya digital. Permasalahan utama dalam riset ini adalah bagaimana estetika makanan digital membentuk identitas individual dan kolektif. Penelitian ini bertujuan melakukan tinjauan sistematis terhadap tren dan kesenjangan teoretis dalam studi food porn dan identitas kuliner digital. Dengan pendekatan multidisipliner, kajian ini menyintesis literatur untuk memperkaya wacana komunikasi digital dan budaya makanan, serta merumuskan dasar konseptual dan metodologis bagi penelitian lanjutan. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan penelusuran artikel melalui Google Scholar, ScienceDirect, dan Scopus, menggunakan kriteria seleksi berdasarkan relevansi topik dan periode publikasi 2015–2025. Sebanyak 10 artikel terpilih dianalisis secara kualitatif, dengan fokus pada konstruksi identitas, konsumsi visual, relasi kuasa, dan peran media sosial. Hasil menunjukkan dominasi pendekatan kualitatif dan analisis wacana visual, serta temuan bahwa food porn merupakan praktik komunikasi yang kompleks, sarat makna budaya, dan berperan dalam memperkuat maupun menantang identitas berbasis kelas, gender, dan ras. Studi ini menekankan pentingnya integrasi pendekatan visual, etnografi digital, dan data kuantitatif media sosial dalam riset mendatang.
Mengelola Otentisitas di Tengah Regulasi: Strategi Adaptasi Pariwisata Gastronomi Terhadap Kebijakan Pembangunan Daerah Sias, Rycho Nur Nirbita; Fazrin, Farah Azirinda; Abdillah, Muhammad Rizki; Reindrawati, Dian Yulie; ‘Aini, Tazkia Qurrota
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 6 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i6.9774

Abstract

Wisata gastronomi telah menjadi instrumen vital bagi pembangunan ekonomi daerah; namun, implementasi kebijakan dan standardisasi pembangunan fisik seringkali berbenturan dengan nilai-nilai tradisional setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi adaptasi para pemangku kepentingan wisata gastronomi dalam merespons tekanan kebijakan publik dan modernisasi. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan, penelitian ini mengkaji berbagai kasus di Indonesia, seperti Yogyakarta, Palu, dan Manggarai, melalui perspektif teori autentisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para pemangku kepentingan beradaptasi melalui tiga dimensi utama: (1) Keaslian Objektif, dengan menjaga kemurnian bahan di tengah peraturan kebersihan yang ketat; (2) Keaslian Konstruktif, dengan membangun narasi dan simbol yang selaras dengan pencitraan kota; dan (3) Keaslian Eksistensial, dengan menciptakan pengalaman partisipatif yang melibatkan wisatawan secara emosional. Kesimpulannya, keberhasilan wisata gastronomi tidak hanya bergantung pada infrastruktur tetapi juga pada keseimbangan antara regulasi pemerintah dan pelestarian identitas lokal untuk memastikan keberlanjutan budaya dan manfaat ekonomi yang adil.