Pengelolaan limbah organik yang tidak optimal masih menjadi permasalahan utama di wilayah pedesaan, termasuk di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Limbah rumah tangga dan pertanian yang dibuang tanpa pengolahan berpotensi mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan masyarakat. Di sisi lain, pemanfaatan lahan pekarangan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga juga belum dimaksimalkan. Program pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui implementasi solusi terpadu berbasis budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai upaya pengelolaan limbah organik sekaligus optimalisasi lahan pekarangan melalui penanaman sayuran. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, pelatihan teknis budidaya maggot dan pembuatan pupuk kasgot, serta distribusi bibit sayuran (cabai, tomat, dan terong) yang melibatkan 27 ibu rumah tangga sebagai peserta. Hasil program menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai pengelolaan limbah organik berkelanjutan. Budidaya maggot BSF terbukti efektif mereduksi volume limbah rumah tangga sekaligus menghasilkan biomassa maggot sebagai pakan ternak alternatif dan pupuk kasgot yang diaplikasikan pada tanaman pekarangan. Integrasi antara pengelolaan limbah dan budidaya sayuran menciptakan siklus ekonomi sirkular yang berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan keluarga dan kemandirian ekonomi masyarakat. Partisipasi aktif masyarakat sepanjang program menjadi indikator keberhasilan transfer teknologi dan pengetahuan. Untuk menjamin keberlanjutan, diperlukan pendampingan berkelanjutan dari pemerintah desa dan penguatan kelembagaan lokal. Program ini diharapkan dapat menjadi model replikasi bagi desa-desa lain dalam mengatasi permasalahan limbah organik sekaligus memperkuat ketahanan pangan secara mandiri dan berkelanjutan.