Maya Samodra, Velia
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Faktor Sosiodemografi dengan Kejadian Gizi Kurang (Underweight) pada Balita di Wilayah Pesisir Pantai Nipah Baiq Amira Fatmaharani; Mardiah, Aena; Maya Samodra, Velia; Budi Susila Duarsa, Artha
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 4 No. 1 (2025): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/msjou.v4i1.22

Abstract

Latar Belakang Underweight atau gizi kurang adalah masalah gizi balita yang paling awalbisa terdeteksi dibanding stunting dan wasting. Gangguan awal pertumbuhan anak ditandaidengan weight faltering yaitu berat badan tidak naik sesuai standar, yang jika dibiarkan anakbisa mengalami Underweight, berlanjut menjadi wasting, dan jika dibiarkan akan mengalamistunting. Faktor sosiodemografi dapat mempengaruhi kejadian gizi kurang (underweight) yang tercakup dalam sosiodemografi yaitu tingkat pendidikan ayah, tingka pendidikan ibu, tingkat pengetahuan orang tua, jumlah anggota keluarga dan tingkat pendapatan keluarga. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan faktor sosiodemografi dengan kejadian gizi kurang (Underweight) pada balita di wilayah Pesisir Pantai Nipah. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan studi cross sectional. Populasi penelitian yaitu seluruh orang tua yang memiliki anak balita Di Wilayah Pesisir Pantai Nipah, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Batas nilai signifikansi adalah p-value <0,05. Hasil: penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkatpendidikan ayah (p-value = 0,794), tingkat pendidikan ibu (p-value = 0,686), dan tingkatpendapatan keluarga (p-value = 0,528) terhadap kejadian gizi kurang. Sedangkan terdapathubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan orang tua (p-value = 0.000) dan jumlah anggota keluarga (p-value = 0,001) terhadap kejadian gizi kurang. Kesimpulan: Berdasarkan hasil uji statistik yang dilakukan, terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan orang tua, dan jumlah anggota keluarga terhadap kejadian gizi kurang (underweight) pada balita diwilayah pesisir pantai nipah, sedangkan tidak ditemukan adanya hubungan antara tingkat pendidikan ayah, tingkat pendidikan ibu, dan tingkat pendapatan keluarga terhadap kejadian gizi kurang (underweight) pada balita diwilayah pesisir pantai nipah AbstractBackground: Underweight or insufficient nutrition is a nutritional issue in toddlers that can be detected earlier than stunting and wasting. Early growth disturbances in children are characterized by weight faltering, where the weight does not increase according to standards. If left unaddressed, it can lead to underweight, progress to wasting, and eventually result in stunting. Sociodemographic factors can influence the occurrence of underweight, encompassing educational levels of parents, parental knowledge, family size, and family income. Objective: To determine the relationship between sociodemographic factors and the incidence ofunderweight among toddlers in the Nipah Coastal Area. Method: This research is a quantitative study using a cross-sectional design. The study population consists of all parents with toddlers in the Nipah Coastal Area, North Lombok Regency, West Nusa Tenggara. Cluster random sampling was used to select the sample. The significance level was set at a p-value of <0.05. Results: The study indicates that there is no significant relationship between the father's educationallevel (p-value = 0.794), mother's educational level (p-value = 0.686), and family income (p-value =0.528) with the occurrence of underweight. However, there is a significant relationship between parental knowledge level (p-value = 0.000) and family size (p-value = 0.001) with the occurrence of underweight. Conclusion: Based on the statistical tests conducted, there is a relationship between parental knowledgelevel, and family size with the incidence of underweight in toddlers in the Nipah Coastal Area. Meanwhile, no relationship was found between the father's educational level, mother's educational level, and family income with the occurrence of underweight in toddlers in the Nipah Coastal Area. 
Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Orang Tua, Status Ekonomi, dan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare pada Balita di Gunungsari Kabupaten Lombok Barat Dzikra, Girang; Angga Adnyana, I Gede; Maya Samodra, Velia; Azmi, Fahriana
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 4 No. 1 (2025): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/msjou.v4i1.68

Abstract

Latar Belakang : Anak-anak sangatlah rentan untuk terkena penyakit, hal ini dikarenakan imunitas pada anak masih bersifat imatur dan akan terus berkembang seiring pertambahan usia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) diare merupakan penyakit kedua tertinggi penyebab kematian pada anak usia dibawah 5 tahun dengan kasus kematian mencapai 370.000 anak pada tahun 2019. Tujuan : Mengetahui hubungan tingkat Pendidikan orang tua, status ekonomi, dan sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Metode : Penelitian ini dilakukan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Data penelitian kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil : Data penelitian didapatkan bahwa sebanyak 24 (30%) responden tidak mengalami kejadian diare, sedangkan sebanyak 56 (70%) responden  mengalami kejadian diare. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan orang tua (p-value = 1,195), status ekonomi (p-value = 0,256), penyediaan air bersih (p-value = 0,254), jamban keluarga (p-value = 0,147), dan pengelolaan limbah cair (p-value = 0,336) terhadap kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan orang tua, status ekonomi, penyediaan air bersih, jamban keluarga, dan pengelolaan limbah cair terhadap kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Berdasarkan hasil penelitian ini, khususnya untuk Pemerintah dan instansi Kesehatan harus berfokus terkait penanganan dan pencegahan pengendalian faktor risiko kejadian diare. Abstract Background: Children are highly vulnerable to diseases due to their immature immune systems, which continue to develop as they age. According to data from the World Health Organization (WHO), diarrhea is the second highest cause of death among children under 5 years old, with 370,000 deaths recorded in 2019. Objective: To determine the relationship between parental education level, economic status, and environmental sanitation with the occurrence of diarrhea in children aged 0-60 months in the Gunungsari district of West Lombok Regency. Method: This research was conducted in the Gunungsari district of West Lombok Regency on November 11-12, 2023, using purposive sampling technique. The data were analyzed using univariate and bivariate analyses. Results: The research data revealed that 24 (30%) respondents did not experience diarrhea, while 56 (70%) respondents experienced diarrhea. Bivariate analysis showed no significant relationship between parental education level (p-value = 1.195), economic status (p-value = 0.256), provision of clean water (p-value = 0.254), family toilets (p-value = 0.147), and liquid waste management (p-value = 0.336) with the occurrence of diarrhea in children aged 0-60 months in the Gunungsari district of West Lombok Regency. Conclusion: There is no significant relationship between parental education level, economic status, provision of clean water, family toilets, and liquid waste management with the occurrence of diarrhea in children aged 0-60 months in the Gunungsari district of West Lombok Regency. Based on these research findings, particularly for the government and health institutions, the focus should be on handling and preventing the control of diarrhea risk factors.