Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INTEGRATION OF LOCAL WISDOM IN INDONESIAN LANGUAGE LEARNING AT UPT SDN 21 BANGKALA, JENEPONTO REGENCY Marniati, Marniati; M. Agus, M. Agus; Bahri, Aliem
Jurnal Konseling Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Konseling Pendidikan Islam
Publisher : LP2M IAI Al-Khairat Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32806/jkpi.v7i1.1286

Abstract

This research aims to describe: (1) the integration of local wisdom in Indonesian learning planning at UPT SDN 21 Bangkala, Jeneponto Regency, (2) the implementation of local wisdom in the implementation of Indonesian language learning, and (3) the supporting and inhibiting factors in the integration of local wisdom in the learning. This study uses a qualitative approach with a descriptive type of research. The research subjects include classroom teachers and students, while data collection techniques are carried out through observation, interviews, and documentation. Data is analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawn. The results of the study show that: (1) at the planning stage, teachers have integrated elements of local wisdom through the selection of materials, learning objectives, and the preparation of activities relevant to regional culture, although it is still not completely systematic. (2) In the implementation stage, teachers apply local wisdom through the use of text examples, local folklore, contextual learning media, and discussions that raise students' cultural experiences. Students also show enthusiasm and active involvement when material is associated with the local culture. (3) Supporting factors for the integration of local wisdom include the availability of cultural resources in the surrounding environment, school support, and the proximity of students to the cultural context. The inhibiting factors include the limitation of teaching materials that contain local wisdom, the lack of teacher training, and the lack of optimal use of culture-based learning media. This study concludes that the integration of local wisdom in Indonesian learning at UPT SDN 21 Bangkala has been implemented, but it still needs to be strengthened in the aspects of planning and providing teaching materials so that the implementation of learning based on local wisdom can take place more optimally.
REINTERPRETASI KONSEP NUSYUZ DALAM PERSPEKTIF MAQASHID SYARIAH: ANTARA KEPATUHAN NORMATIF DAN KEADILAN RELASIONAL M. Agus, M. Agus; Islamul Haq; Saidah; Fikri; Agus Muchsin
Al-IHKAM Jurnal Hukum Keluarga Jurusan Ahwal al-Syakhshiyyah Fakultas Syariah IAIN Mataram Vol. 18 No. 1 (2026): Juni (Inprogress)
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/alihkam.v18i1.15376

Abstract

Konsep nusyuz dalam kerangka hukum keluarga Islam tradisional secara historis sering kali diinterpretasikan melalui kacamata patriarki, yang secara dominan dipandang sebagai bentuk pembangkangan istri terhadap otoritas suami. Pendekatan kepatuhan normatif yang sepihak ini kerap mengabaikan kompleksitas dinamika kekuasaan dalam rumah tangga, sehingga berpotensi melahirkan ketidakadilan sistemik, menormalisasi kekerasan dalam rumah tangga, dan menghilangkan hak-hak esensial perempuan. Artikel ini bertujuan untuk mendekonstruksi dan mereinterpretasi konsep nusyuz dengan menggeser paradigma dari sekadar pelanggaran normatif menuju analisis komprehensif berbasis maqashid syariah (tujuan-tujuan hukum Islam) dan teori keadilan relasional. Menggunakan pendekatan kualitatif sosio-legal dan studi kepustakaan, penelitian ini mengkaji literatur fikih klasik, Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia, serta putusan-putusan pengadilan agama kontemporer. Kebaharuan dari penelitian ini terletak pada integrasi antara keadilan relasional Arthur Miller dan Qira'ah Mubadalah karya Faqihuddin Abdul Kodir, yang dipadukan dengan pendekatan teori sistem Jasser Auda terhadap maqashid syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nusyuz harus dipahami secara kontekstual sebagai kegagalan resiprokal dalam kewajiban relasional oleh salah satu pihak, baik suami maupun istri. Lebih jauh, tindakan seperti kepergian istri dari rumah kediaman bersama untuk menghindari kekerasan atau penelantaran tidak dapat dikategorikan secara hukum sebagai nusyuz; melainkan merupakan manifestasi sah dari hifz al-nafs (perlindungan jiwa dan integritas psikologis) dan hifz al-nasl (perlindungan ekosistem keluarga dan generasi penerus). Dengan menegakkan keadilan relasional, hukum keluarga Islam dapat bertransisi dari struktur hierarkis yang kaku menuju kerangka egaliter yang adaptif, yang secara hakiki memantulkan idealisme Islam tentang sakinah, mawaddah, dan rahmah.