Esti Rahayu
Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way, Jakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Memberdayakan Jemaat Gereja di Sragen: Pelatihan dan Pelayanan Melalui Mission Trip Romika; Andreas Eko Nugroho; Esti Rahayu; Nehemia Wiranata Koeswanto; Elisabeth Era
Diakoneo : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2024): Desember
Publisher : Politeknik Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui mission Trip yang dilaksanakan di Sragen bertujuan untuk memberikan pelatihan dan pelayanan yang mendalam kepada warga gereja dalam berbagai aspek kehidupan rohani dan kepemimpinan gereja. Melalui kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), konseling, pelatihan kepemimpinan, pelatihan Worship Leader (WL), dan pelatihan guru Sekolah Minggu, program ini menargetkan pengembangan kualitas pelayanan gereja di Sragen. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menggali persepsi dan pengalaman para peserta melalui wawancara dan diskusi kelompok terarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini berhasil membangkitkan semangat peserta, memperkuat kemampuan kepemimpinan, serta meningkatkan kualitas pelayanan ibadah dan pendidikan anak di gereja. Dampak positif dari program ini tidak hanya dirasakan oleh para peserta, tetapi juga oleh jemaat gereja secara keseluruhan, yang mengalami peningkatan dalam kebersamaan dan kualitas ibadah. Program ini menunjukkan pentingnya mission trip dalam memperkuat kapasitas gereja dalam mempersiapkan pelayanan yang baik bagi warga gereja.
Harmonisasi Kasih Karunia dan Taurat: Relevansi Teologis dalam Kehidupan Kristen Kontemporer Jusup Maria Setiawan Sutandar; Hikman Sirait; Esti Rahayu
Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi Vol. 8 No. 1 (2025): Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47457/phr.v8i1.609

Abstract

This study examines the theological discourse surrounding grace and the Torah, a subject that has generated considerable debate among contemporary Christian communities. A prevalent view asserts that the grace made available through the death of Jesus Christ renders the Torah obsolete, thereby releasing Christians from its observance. In contrast, another perspective upholds the continued relevance of the Torah, particularly the Ten Commandments, as a moral and spiritual foundation. This ongoing debate underscores the need for a more nuanced understanding of the relationship between grace and the Torah in the context of Christian life today. Accordingly, the objective of this research is to investigate the potential harmonisation between grace and the Torah within contemporary Christian practice. Employing a descriptive qualitative approach, this study utilises a literature review method, drawing primarily on biblical texts and supplemented by relevant peer-reviewed scholarly sources. The findings suggest that grace and the Torah need not be viewed in opposition, but rather as complementary aspects of Christian ethics and spirituality. From both philosophical and moral perspectives, the study affirms that Christians—whether they emphasise divine grace or Torah observance—are equally called to embody a life of moral integrity and ethical responsibility.
Sabat sebagai Penyembuhan: Pendekatan Teologis terhadap Konsep Self-care dalam Kejadian 2:2–3 Lioe Mie Kim; Hikman Sirait; Esti Rahayu
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.491

Abstract

In today's modern world, characterised by advanced technology and rapid information flow, people are increasingly pressured to keep pace with these advancements. The modern world is also marked by a fast-paced lifestyle, high mental stress, and a tendency for people to work non-stop, leading to the neglect of rest practices. An overemphasis on productivity has led many individuals to lose balance between work and recovery, thereby impacting physical, mental, and spiritual health. In this context, the biblical teaching on the Sabbath offers a theologically relevant value worth reconsidering regarding rest. This study aims to explore the concept of the Sabbath in Genesis 2:2–3 as a theological foundation for holistic and impactful self-care practices. It employs a theological qualitative method with a narrative hermeneutical approach to the text of Genesis. It can be concluded that the Sabbath in the creation narrative (Genesis 2:2–3) contains a profound theological meaning as a divine rest that sanctifies time and life. From a spiritual theology perspective, the Sabbath opens space for self-care practices that are not only oriented toward physical restoration but also touch on the relational dimension of humanity with God. Furthermore, the practice of the Sabbath has transformative power in Christian spirituality, as it directs humans toward an awareness of the need for deep communion with the Creator. AbstrakDalam dunia modern yang penuh kecanggihan teknologi dan informasi cepat menuntut manusia era ini untuk seirama dengan kemajuan tersebut. Dunia modern juga ditandai oleh ritme hidup yang cepat, tekanan mental yang tinggi, serta kecenderungan manusia untuk terus bekerja tanpa jeda, praktik perhentian menjadi semakin terabaikan. Budaya produktivitas yang berlebihan telah menyebabkan banyak individu kehilangan keseimbangan antara pekerjaan dan pemulihan, sehingga berdampak pada kesehatan fisik, mental, dan spiritual. Dalam konteks ini, ajaran Alkitab mengenai Sabat menawarkan suatu nilai teologis yang relevan untuk direnungkan kembali terkait istirahat. Penelitian ini bertujuan untuk menggali konsep Sabat dalam Kejadian 2:2–3 sebagai dasar teologis bagi praktik self-care yang utuh dan berdampak. Menggunakan metode kualitatif teologis dengan pendekatan hermeneutik naratif terhadap teks Kejadian. Maka dapat disimpulkan bahwa Sabat dalam narasi penciptaan (Kej 2:2-3) mengandung makna teologis yang mendalam sebagai perhentian ilahi yang menguduskan waktu dan kehidupan. Dalam perspektif teologi spiritualitas, Sabat membuka ruang untuk praktik self-care yang tidak hanya berorientasi pada pemulihan jasmani, tetapi juga menyentuh dimensi relasional manusia dengan Allah. Lebih dari itu, praksis Sabat memiliki daya transformasi dalam spiritualitas Kristen, karena mengarahkan manusia pada kesadaran kebutuhan akan persekutuan yang mendalam dengan Sang Pencipta.