M. Luqman Hakim
Universitas Pangeran Diponegoro Nganjuk

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Sinergi Manajemen Organisasi dan Nilai Tafsir Q.S. Ash-Shaff: 4 dalam Membangun Tim Dakwah yang Solid dan Efektif di Era Digital Moh. Bahrudin; Anwar Mukti; Agung Mandiro Cahyono; M. Luqman Hakim; Ahmad Nur Fathoni; Muhammad Burhanudin Nur Karim
Sciences du Nord Community Service Vol. 1 No. 02 (2024): Sciences du Nord Community Service
Publisher : North Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71238/sncs.v1i02.110

Abstract

The digital era presents significant challenges for da'wah organizations, including team disintegration, ineffective communication, and burnout due to unstructured management. Addressing these issues requires a synergy between contemporary organizational management and Qur'anic values, particularly the metaphor of a "solid wall" from Q.S. Ash-Shaff: 4, which emphasizes unity and collective strength. This study aims to develop an integrative training module that combines modern management principles with contextual interpretation of Q.S. Ash-Shaff: 4, enhance team cohesion, communication effectiveness, and resilience, and establish a value-based leadership and collaboration model. Employing an action research approach with experiential learning, the program involved organizational diagnosis, participatory workshops, digital da'wah project simulations, and comprehensive evaluation. Data were collected through team effectiveness questionnaires, observations, focus group discussions, and analysis of digital team performance. The results demonstrate increased team cohesion, clearer role distribution, and more efficient meetings, alongside the creation of a Standard Operating Procedure (SOP) that internalizes shaffan values. Furthermore, communication patterns shifted from rigid hierarchies to adaptive collaboration, reflected in improved digital content quality and responsiveness. The findings affirm that systematic integration of management science and Qur'anic values effectively transforms da'wah teams, strengthening both operational and intrinsic faith-based commitment for impactful digital da'wah.
Pengembangan Manajemen Kurikulum Integratif untuk Madrasah Diniyah: Menghubungkan Ilmu Tahajud, Tafsir Al-quran dan Manajemen Pembelajaran yang Partisipatif Agung Mandiro Cahyono; Anwar Mukti; M. Luqman Hakim; Moh. Bahrudin; Ahmad Nur Fathoni; Ana Asyifa Azzahro
Sciences du Nord Community Service Vol. 2 No. 02 (2025): Sciences du Nord Community Service
Publisher : North Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71238/sncs.v2i02.112

Abstract

This community service program focuses on developing an integrative curriculum management model for Madrasah Diniyah that connects Ilmu Tahajud, Qur’anic exegesis (Tafsir al-Qur’an), and participatory learning management. The initiative responds to the need to strengthen the quality of nonformal Islamic education by integrating spiritual practice, textual understanding, and collaborative pedagogical approaches within a unified framework. Using a Participatory Action Research (PAR) approach, the program engaged teachers, local religious leaders, and community members in co-designing curriculum components that reflect both classical Islamic knowledge and contemporary learning needs. Activities included needs assessment workshops, curriculum mapping sessions, teacher training on participatory methods, and pilot implementation of integrative learning modules. Results show that embedding Ilmu Tahajud enhances learners’ spiritual discipline and motivation, while structured Tafsir al-Qur’an sessions improve interpretive skills and contextual engagement with the Qur’anic text. When paired with participatory learning management—such as dialogic teaching, co-planning, and reflective evaluation—the integrated model fosters higher student engagement, stronger teacher collaboration, and greater community ownership of the educational process. This program demonstrates that integrative curriculum management can serve as a viable strategy for empowering Madrasah Diniyah to elevate learning quality while maintaining their spiritual and cultural identity.
NALAR KRITIS KEMAKSUMAN IMAM ; Studi Tafsir Al Mizan Karya al Thabathaba’i Tentang Imamah Misbachul Munir; Nur Rahma Shanty; M. Luqman Hakim
Bahasa Indonesia Vol 12 No 1 (2026): TEO-SUFISME
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf Universitas Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53429/spiritualis.v12i1.2323

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kemaksuman imam (‘iṣmah al-imāmah) dalam perspektif Syiah melalui penafsiran Muhammad Husein Thabathaba’i dalam Tafsir al-Mīzān. Perbedaan teologis antara Syiah dan Sunni, khususnya terkait doktrin imamah, telah menjadi isu penting dalam diskursus keislaman dan kerap memicu konflik di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Salah satu doktrin fundamental Syiah adalah keyakinan bahwa imam memiliki sifat maksum, yaitu terjaga dari dosa dan kesalahan, yang diposisikan sebagai bagian dari prinsip dasar agama. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan tematik (maudhu’i), dengan menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan imamah sebagaimana ditafsirkan dalam Tafsir al-Mīzān. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Thabathaba’i memandang imamah sebagai anugerah ilahi yang diberikan kepada individu terpilih setelah melalui serangkaian ujian spiritual, sebagaimana tercermin dalam penafsiran QS. al-Baqarah [2]: 124. Ia menegaskan bahwa imam memiliki pengetahuan mendalam tentang realitas metafisik (malakūt) serta memperoleh kemaksuman sebagai karunia Allah (al-mauhubah). Konsep ini selaras dengan doktrin Syiah yang menempatkan imam sebagai otoritas spiritual dan intelektual tertinggi dalam membimbing umat. Selain itu, corak penafsiran Thabathaba’i menunjukkan pengaruh kuat latar belakang mazhabnya, yang dipadukan dengan pendekatan filosofis. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperjelas konstruksi teologis konsep kemaksuman imam dalam tafsir Syiah serta relevansinya dalam kajian keislaman kontemporer.