Santosa, Dhania
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Delayed Cerebral Ischemia Setelah Clipping Aneurisma: Sebuah Studi Kasus Zakaria; Harijono, Bambang; Santosa, Dhania; Yusuf, Kakung; Armyda, Remo
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.466

Abstract

Pendahuluan: Aneurisma intrakranial yang mengalami ruptur dan menyebabkan perdarahan subaraknoid (PSA) merupakan keadaan gawat darurat neurologis dengan tingkat mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Komplikasi tersering dan paling serius pada fase subakut adalah delayed cerebral ischemia (DCI), yang terjadi pada sekitar 20–30% pasien dan dapat menyebabkan defisit neurologis menetap. Laporan ini bertujuan menjelaskan secara komprehensif aspek fisiopatologi, klasifikasi klinis, serta strategi manajemen anestesi perioperatif pada pasien dengan aneurisma intrakranial, terutama dalam konteks pencegahan dan tata laksana DCI pasca tindakan clipping. Deskripsi Kasus: Perempuan 68 tahun dengan riwayat penurunan kesadaran sejak enam hari sebelumnya, didahului nyeri kepala hebat dan muntah tiga kali. CT scan menunjukkan adanya perdarahan subaraknoid, pasien dirujuk untuk penanganan bedah saraf. External Ventricular Drain (EVD) Kocher (S) dipasang pada 15 Juli 2025. Hasil evaluasi pascaoperasi menunjukkan terdapat ICH burst lobe di cortical subcortical regio temporalis kanan yang sebagian, edema otak, dan terpasangnya clipping ICA kanan serta VP shunt di ventrikel lateralis kiri. Pasien dirawat di neurologi intensive care unit, pada hari ke lima terjadi penurunan kesadaran GCS 14 (E3V5M6) menjadi GCS 7 (E2V2M3) dan di lakukan evaluasi CT Scan dan lab. Keluarga menolak dilakukan intubasi dan tindakan invasif. Pasien dirawat selama 9 hari di Neuro ICU dan dinyatakan meninggal pada 6 Agustus 2025. Simpulan: Pencegahan dan deteksi dini DCI memerlukan kolaborasi multidisiplin, termasuk peran aktif dokter anestesi pada seluruh tahapan manajemen aneurisma intrakranial. Pendekatan perioperatif yang komprehensif dan berbasis bukti berpotensi menurunkan komplikasi serta meningkatkan luaran fungsional dan kualitas hidup pasien.
Pengelolaan Anestesi pada Pasien Aneurisma Serebri Pecah dengan Kehamilan Trimester 2 Yusuf, Kakung Muhammad; Santosa, Dhania; Zakaria; Armyda, Remo
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.469

Abstract

Pendahuluan: Perdarahan subaraknoid aneurismal (aSAH) pada kehamilan merupakan kondisi langka namun berisiko tinggi bagi ibu dan janin. Penatalaksanaannya memerlukan keseimbangan antara urgensi neurologis, keselamatan maternal–fetal, serta pertimbangan anestesi dan paparan radiasi. Laporan kasus ini bertujuan menggambarkan tatalaksana anestesi dan endovaskular pada aSAH trimester kedua kehamilan. Deskripsi Kasus: Perempuan 42 tahun, G3P2, usia kehamilan 17–18 minggu, datang dengan nyeri kepala hebat. CT non-kontras menunjukkan aSAH difus dengan IVH (Modified Fisher 4; H&H 2; WFNS 1). Dilakukan endovascular coiling di bawah anestesi umum dengan target stabilitas hemodinamik dan normokapnia; regimen meliputi fentanyl–propofol–rocuronium dan rumatan sevofluran ±0,8 MAC, disertai abdominal shielding. DSA mengonfirmasi aneurisma sakular pada ostium A1 dan koiling mencapai oklusi memadai. Pasca tindakan stabil, pasien dipulangkan pada hari pertama dengan nimodipin oral 60 mg tiap 4 jam (program 21 hari). Kehamilan berlanjut sampai aterm, seksio sesarea elektif pada 37–38 minggu dengan status neurologis ibu baik. Kesimpulan: Strategi anestesi menekankan perlindungan perfusi serebral dan uteroplasental, manajemen jalan napas spesifik kehamilan, serta mitigasi radiasi selama terapi endovaskular. Pada pasien hamil dengan aSAH, endovascular coiling dengan proteksi radiasi, kontrol hemodinamik ketat, dan tata laksana multidisiplin memberikan luaran maternal fetal yang baik, pemulangan dini dapat dipertimbangkan berdasarkan penilaian risiko individual.