Yuliani, Leni
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENATALAKSANAAN DAN TARGET TEKANAN DARAH PADA HIPERTENSI URGENSI : LAPORAN KASUS Elviani, Calista Haniifa; Yuliani, Leni; Drew, Clement
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55474

Abstract

Hipertensi urgensi merupakan kondisi peningkatan tekanan darah tanpa kerusakan organ target akut. Kondisi ini sering ditangani secara agresif sehingga berpotensi menimbulkan gangguan perfusi organ. Beberapa pedoman menekankan fokus pada penurunan tekanan darah bertahap dengan terapi oral dan target tekanan darah yang aman. Laporan kasus ini menyoroti pemahaman yang tepat mengenai prinsip tatalaksana dan target penurunan tekanan darah pada hipertensi urgensi. Seorang pasien laki-laki berusia 50 tahun datang ke Puskesmas dengan keluhan pegal pada leher belakang menjalar hingga ke bahu sejak satu bulan lalu, disertai dengan nyeri kepala berdenyut hilang timbul pada seluruh kepala sejak dua minggu yang lalu. Pasien memiliki riwayat batu ginjal dan batu kandung kemih yang telah dioperasi pada tahun 2019. Pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah tinggi, tanpa adanya kelainan neurologis dengan kadar gula sewaktu dalam batas normal. Dari hasil pemetaan Mandala of Health menunjukkan faktor biologis yaitu riwayat keluarga hipertensi, perilaku personal seperti pola makan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, dan ketidakpatuhan berobat, adanya faktor psikologis berupa stress ekonomi, serta faktor sosial ekonomi dengan status ekonomi menengah ke bawah serta tingkat Pendidikan rendah. Diagnosis holistik mencakup aspek personal nyeri kepala dan leher, aspek klinis hipertensi urgensi, aspek internal berupa kurangnya pengetahuan dan kesadaran untuk rutin kontrol, dan aspek eksternal berupa keterbatasan ekonomi. Penatalaksanaan medis yang sesuai dan edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga, disertai dengan observasi tekanan darah oleh tenaga kesehatan. Penatalaksanaan hipertensi urgensi dilakukan secara bertahap menggunakan antihipertensi oral dan diperlukan evaluasi serta pemantauan rutin untuk mencegah komplikasi serta progresi menjadi hipertensi emergensi.
DIAGNOSIS KOMUNITAS SEBAGAI DASAR INTERVENSI PROMOTIF DAN PREVENTIF DALAM UPAYA PENURUNAN KASUS BARU TUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS X Isella, Verren; Yuliani, Leni; Drew, Clement
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.56029

Abstract

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular akibat Mycobacterium tuberkulosis dengan angka kematian global mencapai 1,30 juta . Indonesia menempati urutan kedua jumlah kasus TBC tertinggi di dunia dengan 889.000 kasus pada tahun 2025. Permasalah ini masih ditemukan di wilayah kerja Puskesmas X, dengan peningkatan kasus baru dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini berkaitan erat dengan faktor perilaku, lingkungan serta rendanya kesadaran masyarakat terhadap pencegahan dan kepatuhan pengobatan. Diperlukan diagnosis komunitas supaya dapat mengidentifikasi prioritas masalah kesehatan masyarakat serta memberikan intervensi yang tepat sasaran. Merancang dan mengevaluasi intervensi kesehatan masyarakat dalam upaya menurunkan angka kasus baru tuberkulosis paru. Diagnosis komunitas dianalisis menggunakan Paradigma Blum, penetapan prioritas masalah melalui metode Delphi dan penilaian USG (Urgency, Seriousness, Growth). Analisis akar masalah menggunakan diagram Fishbone. Pelaksanaan intervensi dimonitor dan dievaluasi dengan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act) serta pendekatan sistem agar intervensi yang dilakukan efektif dan berkelanjutan. Analisis Fishbone menunjukkan faktor utama masalah kesehatan terletak pada aspek perilaku khususnya rendanya kesadaran terhadap perilaku pencegahan dan pengobatan. Setelah intervensi dilakukan, didapatkan 90% peserta mengalami peningkatan nilai pre-test ke post-test dengan nilai ≥ 80 poin dan lima perwakilan peserta berhasil memperagakan etika batuk dengan benar. Perilaku masyarakat ditetapkan sebagai faktor utama meningkatnya kasus TBC di wilayah kerja Puskesmas X. Intervensi yang dilakukan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan mengenai TBC serta masyarakat berhasil melakukan etika batuk yang benar.