Perkembangan teknologi pembelajaran mendorong penggunaan media yang mampu membantu siswa memahami materi yang bersifat abstrak, seperti topologi jaringan. Dua media yang banyak digunakan dalam pembelajaran adalah Augmented Reality dan video simulasi. Namun, kajian yang membandingkan kedua media tersebut, khususnya dalam kaitannya dengan kemampuan berpikir divergen dan hasil belajar siswa, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan Augmented Reality dan video simulasi terhadap kemampuan berpikir divergen serta mengetahui perbedaan hasil belajar siswa berdasarkan skor post-test essay. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu. Subjek penelitian terdiri atas siswa SMA yang terbagi ke dalam dua kelompok pembelajaran, yaitu kelompok Augmented Reality dan kelompok video simulasi. Kemampuan berpikir divergen diukur menggunakan Lembar Kerja Peserta Didik berbasis indikator fluency, flexibility, originality, dan elaboration yang diadaptasi dari Torrance Test of Creative Thinking. Hasil belajar siswa diukur melalui pre-test dan post-test, yang terdiri atas soal pilihan ganda dan essay. Analisis data perbedaan hasil belajar antara kedua kelompok dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney. Sementara itu, kemampuan berpikir divergen dilakukan menggunakan robust regression untuk mengakomodasi karakteristik data yang berpotensi tidak memenuhi asumsi statistik parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator kemampuan berpikir divergen memiliki kontribusi yang berbeda terhadap hasil belajar pada masing-masing media pembelajaran. Selain itu, tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa antara kelompok Augmented Reality dan video simulasi berdasarkan skor post-test essay. Temuan ini memberikan gambaran mengenai peran media pembelajaran berbasis teknologi dalam mendukung proses berpikir siswa serta menjadi dasar pertimbangan dalam pemilihan media pembelajaran pada materi topologi jaringan.