Program ini dilatarbelakangi oleh kendala yang dihadapi oleh pemuda Desa Mattirowalie dalam hal keterampilan berwirausaha dan pengelolaan usaha, khususnya setelah kegagalan mereka mengelola bisnis berbasis minyak cengkeh akibat kurangnya inovasi dan lemahnya dukungan dari lembaga terkait. Dengan mengedepankan potensi lokal dan konsep kewirausahaan yang berorientasi sosial, program ini dirancang untuk membangun kapasitas kelompok Generasi Milenial Lampoko agar lebih siap dalam merintis dan mengelola usaha bernilai ekonomis secara berkesinambungan. Proses pelaksanaan dilakukan secara kolaboratif dan partisipatif melalui lima tahapan, yakni sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, dan perencanaan keberlanjutan. Pelatihan melibatkan 15 hingga 20 peserta dan mencakup materi perencanaan usaha, digital branding, serta manajemen dasar usaha. Dalam tahap produksi, peserta terbagi ke dalam dua unit kegiatan utama: produksi parfum dan produksi sabun cuci piring berbahan minyak cengkeh. Tim produksi parfum berhasil menciptakan aneka varian aroma, sementara tim sabun memproduksi antara 10 hingga 15 liter sabun dalam satu kali proses, yang selanjutnya dikemas dalam 40 sampai 50 botol siap edar. Keduanya menunjukkan peningkatan keterampilan dalam teknik produksi dan pemasaran, serta berhasil memanfaatkan berbagai platform digital seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan WhatsApp untuk promosi produk. Kegiatan ini membawa dampak positif berupa peningkatan kapasitas kewirausahaan, kepercayaan diri, dan terciptanya peluang ekonomi baru di kalangan pemuda desa. Secara keseluruhan, pelaksanaan program ini membuktikan bahwa partisipasi aktif masyarakat, khususnya generasi muda, sangat penting dalam merintis usaha mandiri yang berbasis pada potensi lokal dan diarahkan untuk keberlangsungan jangka panjang.