Pendidikan Agama Islam (PAI) di era modern menghadapi tantangan serius berupa kecenderungan pembelajaran yang normatif, dogmatis, dan berorientasi pada hafalan, sehingga kurang mampu menumbuhkan kesadaran kritis, reflektif, dan kontekstual pada peserta didik. Kondisi ini menuntut adanya pembaruan paradigma pendidikan yang tidak hanya setia pada nilai-nilai ajaran Islam, tetapi juga responsif terhadap dinamika sosial, budaya, dan perkembangan zaman. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji aliran progresivisme dalam filsafat pendidikan serta menganalisis relevansinya terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam, khususnya dalam perspektif pemikiran Prof. Dr. H. Zulkifli Musthan. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka (library research) terhadap literatur filsafat pendidikan progresivisme dan karya-karya pendidikan Islam kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa progresivisme, meskipun berasal dari tradisi pemikiran Barat, memiliki sejumlah prinsip pedagogis yang dapat disinergikan dengan nilai-nilai dasar pendidikan Islam, seperti pembelajaran berpusat pada peserta didik, belajar melalui pengalaman, kebebasan berpikir yang bertanggung jawab, serta orientasi sosial pendidikan. Dalam perspektif Zulkifli Musthan, progresivisme bukan dipahami sebagai ideologi sekuler, melainkan sebagai pendekatan metodologis yang dapat merevitalisasi pembelajaran PAI agar lebih humanis, dialogis, dan transformatif. Integrasi progresivisme dalam PAI berpotensi membentuk peserta didik yang tidak hanya saleh secara individual, tetapi juga memiliki kesadaran kritis spiritual dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, artikel ini menegaskan bahwa progresivisme merupakan peluang strategis bagi pengembangan Pendidikan Agama Islam yang relevan dengan tantangan zaman tanpa meninggalkan prinsip tauhid dan akhlak sebagai fondasi utama.