Bendungan Mamak di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat merupakan bendungan urugan batu yang mengalami indikasi lendutan pada daerah puncak saddle dam 2 serta rembesan pada bukit tumpuan kanan hilir saddle dam 2. Investigasi lapangan dilakukan menggunakan metode geolistrik resistivitas dengan konfigurasi dipole–dipole serta metode Ground Penetrating Radar (GPR) pada lintasan yang berbeda untuk mengidentifikasi sumber permasalahan. Hasil geolistrik menunjukkan zona resistivitas rendah (<25 Ω·m) yang mengindikasikan keberadaan jalur rembesan aktif pada area bukit tumpuan kanan hilir saddle dam 2, sedangkan hasil GPR mendeteksi anomali refleksi berupa blank zone dan reflektor hiperbolik pada puncak saddle dam 2 yang menunjukkan adanya deformasi atau lendutan. Penanganan direncanakan melalui pemasangan lapisan selimut kedap air geokomposit tiga lapis pada area rembesan serta penimbunan kembali pada bagian yang mengalami lendutan. Evaluasi stabilitas dilakukan menggunakan perangkat lunak GeoStudio (SEEP/W dan SLOPE/W). Hasil analisis menunjukkan bahwa sebelum penanganan, nilai Factor of Safety (FK) lereng berada pada kisaran 2,26–2,57 untuk kondisi statik dan 1,36–1,84 untuk kondisi gempa maksimum (MDE). Setelah penerapan geokomposit, nilai FK meningkat menjadi 2,30–3,26 pada kondisi statik dan 1,45–2,16 pada kondisi gempa, yang menunjukkan penurunan tekanan air pori dan peningkatan stabilitas lereng secara signifikan. Dengan demikian, penerapan geokomposit terbukti efektif dalam mengendalikan rembesan serta meningkatkan keamanan struktur bendungan terhadap deformasi dan potensi kegagalan jangka panjang.