Background: Non-communicable diseases (NCDs), such as hypertension, diabetes mellitus, cardiovascular disease, and cancer, remain the leading causes of illness and death in Indonesia. Purpose: To describe how Indonesians perceive and practice NCD prevention and to identify key factors influencing their preventive behavior. Method: A narrative literature review was conducted using articles published between 2019 and 2024 from PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar. Studies focusing on lifestyle modification, health screening, or health promotion were analyzed descriptively. Results: Most studies indicate that preventive behavior remains inconsistent and is strongly influenced by education level, socioeconomic status, and health literacy. Urban populations generally demonstrate higher awareness and participation than rural populations. Digital and community-based health programs have been effective in increasing knowledge and promoting healthier lifestyles, although disparities remain in areas with limited resources. Conclusion: Strengthening community participation, integrating culturally appropriate education, and promoting digital-based health literacy are crucial for improving NCD preventive behavior in Indonesia. Sustainable health promotion and multisectoral collaboration are needed to build a sustainable culture of prevention. Keywords: Health Literacy; Health Promotion; Indonesia; Non-Communicable Diseases; Preventive Behavior. Pendahuluan: Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit kardiovaskular, dan kanker, masih menjadi penyebab utama penyakit dan kematian di Indonesia. Tujuan: Untuk menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia memandang dan mempraktikkan pencegahan PTM dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor utama yang memengaruhi perilaku pencegahan mereka. Metode: Penelitian narrative literature review dengan menggunakan artikel yang diterbitkan antara tahun 2019-2024 dari data PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar. Studi yang berfokus pada modifikasi gaya hidup, skrining kesehatan, atau promosi kesehatan yang dianalisis secara deskriptif. Hasil: Sebagian besar studi menunjukkan bahwa perilaku preventif masih belum konsisten dan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, dan literasi kesehatan. Penduduk perkotaan umumnya menunjukkan kesadaran dan partisipasi yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat pedesaan. Program kesehatan digital dan berbasis masyarakat telah efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan mendorong gaya hidup yang lebih sehat, meskipun masih terdapat kesenjangan di daerah dengan sumber daya yang terbatas. Simpulan: Penguatan partisipasi masyarakat, integrasi pendidikan yang sesuai budaya, dan promosi literasi kesehatan berbasis digital sangat penting untuk meningkatkan perilaku preventif PTM di Indonesia. Promosi kesehatan berkelanjutan dan kolaborasi multisektoral diperlukan untuk membangun budaya pencegahan yang berkelanjutan. Kata Kunci: Indonesia; Literasi Kesehatan; Penyakit Tidak Menular; Perilaku Preventif; Promosi Kesehatan.