Indonesia, as a country with high seismic activity, demands stringent earthquake-resistant building structural design, especially in public residential facilities. This study aims to evaluate the structural performance of low-income housing in Madiun City to ensure its suitability for gravity and earthquake loads. This evaluation was conducted using a descriptive quantitative method assisted by StaadPro 2023 software, with reference to the national standards SNI 1726:2019 on earthquake resistance and SNI 2847:2019 on structural concrete. The analysis process focused on testing the dimensions, concrete quality, and reinforcement of the main elements, including columns, beams, and floor slabs. The quantitative evaluation results indicate that the column elements (K1, K2, K3) and beam elements (B1, B2, B3, B4) have met the strength and stability requirements, thus being declared safe. However, analysis of the 130 mm thick floor slabs of the 2nd, 3rd, and 4th floors found a critical discrepancy, with the concrete cover only reaching 18 mm, compared to the minimum requirement of 20 mm, thus categorizing it as unsafe due to the potential for excessive deflection. As a key conclusion, although the main structure is generally sound, immediate technical improvements to the floor slab elements are required to ensure the long-term safety of the building in accordance with applicable standards. ABSTRAK Indonesia sebagai negara dengan aktivitas seismik yang tinggi menuntut perencanaan struktur bangunan tahan gempa yang sangat ketat, terutama pada fasilitas hunian publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja struktural bangunan rumah susun Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Kota Madiun guna memastikan kelayakannya terhadap beban gravitasi dan gempa. Evaluasi ini dilakukan menggunakan metode kuantitatif deskriptif berbantuan perangkat lunak StaadPro 2023, dengan mengacu pada standar nasional SNI 1726:2019 tentang ketahanan gempa dan SNI 2847:2019 tentang beton struktural. Proses analisis difokuskan pada pengujian dimensi, mutu beton, dan penulangan elemen utama yang meliputi kolom, balok, serta pelat lantai. Hasil evaluasi kuantitatif menunjukkan bahwa elemen kolom (K1, K2, K3) dan balok (B1, B2, B3, B4) telah memenuhi syarat kekuatan dan stabilitas, sehingga dinyatakan aman. Namun, analisis pada pelat lantai 2, 3, dan 4 dengan ketebalan 130 mm menemukan ketidaksesuaian kritis, di mana tebal selimut beton hanya mencapai 18 mm dari syarat minimal 20 mm, sehingga dikategorikan tidak aman karena berpotensi memicu lendutan berlebih. Sebagai simpulan utama, meskipun struktur utama secara umum layak, diperlukan perbaikan teknis segera pada elemen pelat lantai untuk menjamin keselamatan jangka panjang bangunan sesuai standar yang berlaku.