Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Edukasi Pemberian Makanan Tambahan Berbahan Pangan Lokal Labu Kuning (Cucurbita Moschata) Pada Balita Stunting Di Desa Ogomoli: Education on Providing Additional Foods Made from Local Foods, Pumpkin (Cucurbita Moschata) For Stunting Toddlers In Ogomoli Village Arniawan, Arniawan; Saprina, Saprina; Syamzul, Moh.; Nawawi, Moh.; Dandiyansa, Abd.; Rusman, Andi; Suardi, Suardi; Marwah, Marwah; Febi, Febi; Jacobus, Siescha Monica; Samang, Sarini M.; Rais, Rasma
Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jppmi.v5i1.1013

Abstract

Stunting merupakan keadaan terhambatnya pertumbuhan pada anak balita yang ditandai dengan tinggi badan lebih rendah dibandingkan anak seusianya, stunting masih menjadi masalah yang mengkhawatirkan karna stunting dapat memberikan dampak buruk jangka pendek dan jangka panjang pada balita sebagai generasi penerus. Salah satu langkah dalam menanggulangi stunting pada balita yaitu melalui edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terkait pencegahan stunting dengan pemberian makanan tambahan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal mengandung gizi yang baik. Kegiatan ini bertujuan melaksanakan edukasi pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal labu kuning pada balita sebagai upaya pencegahan stunting. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2025 di Desa Ogomoli, Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli. Dengan metode ceramah tanya jawab, dan video demonstrasi, diikuti 21 orang ibu balita, ibu hamil dan ibu menyusui, termasuk 6 ibu yang memiliki anak balita dengan kondisi stunting. Rangkaian kegiatan dimulai dengan pengisian kuesioner pre-test kemudian dilanjutkan penyuluhan stunting dan pemberian makanan tambahan bergizi dengan memanfaatkan pangan lokal labu kuning serta pemutaran video demo cara memasak puding olahan labu kuning dan terakhir pengisian kuesioner post-test. Adapun indikator keberhasilan yang dicapai dalam kegiatan ini adalah terjadinya peningkatan rata-rata pengetahuan peserta setelah diberikan edukasi lebih besar (89) dibandingkan rata-rata pengetahuan peserta sebelum diberikan edukasi (64). data ini menunjukkan edukasi dengan metode ceramah tanya jawab dan video demonstrasi dapat meningkatkan pengetahuan ibu dalam pemberian asupan nutrisi dengan memanfaatkan pangan lokal. Diharapkan kepada kepala Puskesmas, Kepala Desa, Kader Posyandu dan tenaga pelaksana Gizi dalam rangka monitoring dan evaluasi terkait pemberian makanan tambahan bergizi pada balita sehingga terhindar dari stunting
Implementasi Nilai-Nilai Kultur Pesantren Pada Santri Non-Mukim Dalam Kehidupan Sehari-Hari Saprina, Saprina; Dwi, Octavia; Sholikhatun, Tri; Sopyan, Ferry; Ma'ruf, Munandar; Fatihin, Moh Khoirul
Journal of Instructional and Development Researches Vol. 6 No. 2 (2026): April
Publisher : Yayasan Indonesia Emerging Literacy Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53621/jider.v6i2.779

Abstract

Kultur pesantren merupakan sistem nilai yang berperan penting dalam membentuk karakter santri, seperti keikhlasan, kedisiplinan, kemandirian, kesederhanaan, dan ukhuwah Islamiyah, yang umumnya terbangun melalui kehidupan yang terstruktur di lingkungan pesantren. Namun, tidak semua santri tinggal di asrama, melainkan terdapat santri non-mukim yang menjalani sistem pulang-pergi sehingga menghadapi tantangan tersendiri dalam mengimplementasikan nilai-nilai tersebut di luar lingkungan pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai kultur pesantren serta menganalisis implementasinya pada santri non-mukim dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur melalui pengumpulan data dari buku, jurnal ilmiah, dan sumber relevan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa santri non-mukim mampu mengimplementasikan nilai-nilai kultur pesantren dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga ibadah, berperilaku sopan, serta disiplin dalam belajar dan beraktivitas. Implementasi tersebut didukung oleh lingkungan keluarga yang religius serta adanya kesadaran diri santri dalam menjalankan nilai-nilai yang telah diperoleh di pesantren. Di sisi lain, terdapat pula faktor yang mempengaruhi tingkat konsistensi penerapan nilai tersebut, antara lain pengaruh lingkungan pergaulan serta keterbatasan pengawasan langsung dari pihak pesantren.Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan penerapan nilai-nilai kultur pesantren pada santri non-mukim bergantung pada sinergi antara pesantren, keluarga, dan individu. Oleh karena itu, kerja sama yang berkelanjutan di antara ketiga unsur tersebut menjadi kunci dalam mengoptimalkan pembentukan karakter santri dalam kehidupan sehari-hari.