ABSTRACT This study examines the representation of women in shampoo advertisements through a semiotic analysis of three popular brands: Sunsilk, Clear, and Pantene. Drawing on Roland Barthes’ framework, the research analyzes denotative, connotative, and ideological meanings embedded in the visual and verbal elements of the advertisements. The findings show that all three brands consistently portray women with idealized hair, which is healthy, shiny, strong, and problem-free, positioning hair as a key marker of femininity, confidence, and social value. While Sunsilk emphasizes lifestyle and self-expression, Clear highlights strength and resilience, and Pantene promotes efficiency through an all-in-one solution, these differences operate within the same ideological framework. The advertisements reproduce dominant beauty myths that associate women’s self-worth with physical appearance and continuous body management. Although some narratives adopt the language of empowerment or practicality, such strategies remain embedded within commercial and consumerist logics. This study argues that shampoo advertisements function not only as promotional media but also as ideological texts that normalize narrow beauty standards and present product consumption as the primary pathway to confidence, empowerment, and social acceptance. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji representasi perempuan dalam iklan sampo melalui analisis semiotika terhadap tiga merek populer: Sunsilk, Clear, dan Pantene. Dengan menggunakan kerangka Roland Barthes, penelitian ini menganalisis makna denotatif, konotatif, dan ideologis yang terkandung dalam elemen visual dan verbal iklan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga merek tersebut secara konsisten menampilkan perempuan dengan rambut yang diidealkan, yaitu sehat, berkilau, kuat, dan bebas masalah, serta memposisikan rambut sebagai penanda utama feminitas, kepercayaan diri, dan nilai sosial. Meskipun Sunsilk menekankan gaya hidup dan ekspresi diri, Clear menonjolkan kekuatan dan ketahanan, serta Pantene mempromosikan efisiensi melalui solusi all-in-one, perbedaan tersebut tetap beroperasi dalam kerangka ideologis yang sama. Iklan-iklan tersebut mereproduksi mitos kecantikan dominan yang mengaitkan harga diri perempuan dengan penampilan fisik dan pengelolaan tubuh secara terus-menerus. Meskipun beberapa narasi mengadopsi bahasa pemberdayaan atau kepraktisan, strategi tersebut tetap tertanam dalam logika komersial dan konsumerisme. Penelitian ini berpendapat bahwa iklan sampo tidak hanya berfungsi sebagai media promosi, tetapi juga sebagai teks ideologis yang menormalisasi standar kecantikan yang sempit dan menghadirkan konsumsi produk sebagai jalan utama menuju kepercayaan diri, pemberdayaan, dan penerimaan sosial.