Siregar, Grace Shinta Wulandari
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

AN ANALYSIS OF PREFIXES IN IKA NATASSA’S NOVEL IN ARSITEKTUR CINTA Mandalahi, Esterlita; Siagian, Novitasari; Siregar, Grace Shinta Wulandari; Marbun, Charli; Ambarita, Esron
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v5i4.9108

Abstract

ABSTRACT Morphological studies in literary works are important for understanding how linguistic elements contribute to meaning construction and narrative development. This study aims to analyze the use of prefixes in the novel Arsitektur Cinta by Ika Natassa, focusing on the four most productive prefixes in Indonesian, namely di-, me-, ber-, and ter-. The research focuses on the types of prefixes used, their grammatical functions and meanings, and their contribution to character development and narrative dynamics. This study employs a qualitative descriptive method, with data collected through systematic identification, recording, and classification of prefixed words found in the novel. The analysis stages involve grouping the data based on prefix types, morphological functions, and their contextual usage in sentences. The findings show that the prefixes me- and di- are the most dominant, functioning to express actions, processes, and experiences undergone by characters, both as agents and as recipients of actions. Meanwhile, the prefixes ber- and ter- are used to depict states, spontaneous reactions, and conditions that are unintentional or static. These findings indicate that prefixes function not only grammatically but also play an important role in enriching the narrative, strengthening characterization, and supporting plot development. Thus, this study concludes that affixation is a linguistic element that makes a significant contribution to the construction of meaning and narrative dynamics in contemporary Indonesian literary works. ABSTRAK Kajian morfologi dalam karya sastra penting dilakukan untuk memahami bagaimana unsur kebahasaan berperan dalam pembentukan makna dan pengembangan narasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan prefiks dalam novel Arsitektur Cinta karya Ika Natassa dengan fokus pada empat prefiks yang paling produktif dalam bahasa Indonesia, yaitu di-, me-, ber-, dan ter-. Fokus permasalahan penelitian ini meliputi jenis prefiks yang digunakan, fungsi gramatikal dan maknanya, serta kontribusinya terhadap pembangunan karakter dan dinamika alur cerita. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa identifikasi, pencatatan, dan pengklasifikasian kata-kata berprefiks yang ditemukan dalam teks novel secara sistematis. Tahapan analisis dilakukan dengan mengelompokkan data berdasarkan jenis prefiks, fungsi morfologis, dan konteks penggunaannya dalam kalimat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prefiks me- dan di- merupakan prefiks yang paling dominan digunakan, yang berfungsi untuk mengekspresikan tindakan, proses, dan pengalaman yang dialami oleh tokoh, baik sebagai pelaku maupun sebagai penerima tindakan. Sementara itu, prefiks ber- dan ter- digunakan untuk menggambarkan keadaan, reaksi spontan, serta kondisi yang bersifat tidak disengaja atau statis. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan prefiks tidak hanya berfungsi secara gramatikal, tetapi juga berperan penting dalam memperkaya narasi, mempertegas karakterisasi, dan mendukung perkembangan alur cerita. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa afiksasi merupakan unsur kebahasaan yang memiliki kontribusi signifikan dalam membangun makna dan dinamika naratif dalam karya sastra Indonesia kontemporer.
REPRESENTATION OF WOMEN IN SHAMPOO ADVERTISEMENTS Siagian, Novitasari; Mandalahi, Esterlita; Siregar, Grace Shinta Wulandari; Marbun, Charli; Sitinjak , Vivi Novalia
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.9453

Abstract

ABSTRACT This study examines the representation of women in shampoo advertisements through a semiotic analysis of three popular brands: Sunsilk, Clear, and Pantene. Drawing on Roland Barthes’ framework, the research analyzes denotative, connotative, and ideological meanings embedded in the visual and verbal elements of the advertisements. The findings show that all three brands consistently portray women with idealized hair, which is healthy, shiny, strong, and problem-free, positioning hair as a key marker of femininity, confidence, and social value. While Sunsilk emphasizes lifestyle and self-expression, Clear highlights strength and resilience, and Pantene promotes efficiency through an all-in-one solution, these differences operate within the same ideological framework. The advertisements reproduce dominant beauty myths that associate women’s self-worth with physical appearance and continuous body management. Although some narratives adopt the language of empowerment or practicality, such strategies remain embedded within commercial and consumerist logics. This study argues that shampoo advertisements function not only as promotional media but also as ideological texts that normalize narrow beauty standards and present product consumption as the primary pathway to confidence, empowerment, and social acceptance. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji representasi perempuan dalam iklan sampo melalui analisis semiotika terhadap tiga merek populer: Sunsilk, Clear, dan Pantene. Dengan menggunakan kerangka Roland Barthes, penelitian ini menganalisis makna denotatif, konotatif, dan ideologis yang terkandung dalam elemen visual dan verbal iklan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga merek tersebut secara konsisten menampilkan perempuan dengan rambut yang diidealkan, yaitu sehat, berkilau, kuat, dan bebas masalah, serta memposisikan rambut sebagai penanda utama feminitas, kepercayaan diri, dan nilai sosial. Meskipun Sunsilk menekankan gaya hidup dan ekspresi diri, Clear menonjolkan kekuatan dan ketahanan, serta Pantene mempromosikan efisiensi melalui solusi all-in-one, perbedaan tersebut tetap beroperasi dalam kerangka ideologis yang sama. Iklan-iklan tersebut mereproduksi mitos kecantikan dominan yang mengaitkan harga diri perempuan dengan penampilan fisik dan pengelolaan tubuh secara terus-menerus. Meskipun beberapa narasi mengadopsi bahasa pemberdayaan atau kepraktisan, strategi tersebut tetap tertanam dalam logika komersial dan konsumerisme. Penelitian ini berpendapat bahwa iklan sampo tidak hanya berfungsi sebagai media promosi, tetapi juga sebagai teks ideologis yang menormalisasi standar kecantikan yang sempit dan menghadirkan konsumsi produk sebagai jalan utama menuju kepercayaan diri, pemberdayaan, dan penerimaan sosial.