Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERAN NYAI HJ. MAHSUNAH FARUQ DALAM PENDIDIKAN KESETARAAN GENDER PADA SANTRI PONDOK PESANTREN SALAFIYAH SYAFI’IYAH SEBLAK JOMBANG M. Wafiyul Ahdi; Ahsanu Syauqi
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 03 (2025): Volume 11 No. 03 September 2025 In Press
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i03.7667

Abstract

Penelitian ini membahas peran strategis Nyai Hj. Mahsunah Faruq dalam menanamkan pendidikan kesetaraan gender di lingkungan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang. Dalam konteks tradisi pesantren yang selama ini didominasi oleh laki-laki, kehadiran sosok Nyai menjadi penanda penting atas transformasi peran perempuan, khususnya dalam sektor pendidikan Islam. Nyai Mahsunah tidak hanya menjalankan fungsi domestik sebagai pengasuh, tetapi juga aktif mendorong perubahan melalui pendidikan yang inklusif dan responsif terhadap isu-isu gender. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk peran yang dijalankan oleh Nyai dalam membangun kesadaran kesetaraan gender serta untuk mengetahui pemahaman santri terhadap nilai-nilai kesetaraan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan penelitian meliputi pengasuh pesantren, pengurus, dan beberapa santri yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nyai Hj. Mahsunah Faruq berhasil menciptakan sistem pendidikan berbasis nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya keadilan dan kesetaraan gender. Santri perempuan didorong untuk aktif dalam kegiatan keilmuan, organisasi, dan kepemimpinan, tanpa mengesampingkan identitas religius mereka. Perubahan paradigma ini menunjukkan bahwa pesantren bisa menjadi ruang pemberdayaan perempuan melalui figur ulama perempuan yang memiliki otoritas keilmuan dan keagamaan yang kuat. Dengan demikian, peran Nyai Mahsunah Faruq menjadi model penting dalam pengembangan pendidikan pesantren yang tidak hanya berorientasi pada kesalehan personal, tetapi juga pada kesadaran sosial yang berkeadilan gender.
Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring Berbahan Dasar Daun Pandan Tholib Hariono; Hilyah Ashoumi; Ahsanu Syauqi; Dilla Fransisca Rosita; Karisma Wahyu Amala; Laila Rahma Mirda; Irkham Nugroho; Rian Adi Prayogo
Jumat Pertanian: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): April
Publisher : LPPM Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32764/abdimasper.v6i1.5295

Abstract

Geographically, Asemgede Village, Ngusikan Subdistrict, Jombang Regency, is located at the northernmost part of Jombang, directly bordering Lamongan Regency. Asemgede is a relatively new subdistrict, formed by the division of Kudu Subdistrict, based on Jombang Regency Regulation No. 15 of 2000. The village consists of one hamlet, two RW, and four RT. It is situated in a forested area between Jombang and Lamongan. The majority of its residents are farmers, pandan mat weavers, and charcoal artisans. The farmers in Asemgede Village apply a seasonal planting pattern, cultivating rice during the first planting season (October to March) and corn and tobacco in the second season (March to August). This highlights the village's potential for natural resource development, including the use of corn waste as a raw material for producing bio-briquettes or other products. With its abundant natural resources, Asemgede Village has the opportunity to develop organic material processing activities into economically valuable products. One example is the production of dishwashing soap made from pandan leaves (Pandanus amaryllifolius), which contain natural compounds such as flavonoids, alkaloids, tannins, polyphenols, and saponins, the latter acting as a natural biosurfactant. Saponins in pandan leaves can produce effective foam for cleaning and possess antibacterial properties. Compared to commercial dishwashing soap, pandan-leaf-based soap offers significant advantages, particularly the use of natural ingredients that are safer for skin health, free of harmful chemicals like triethanolamine, triclosan, preservatives, parabens, and SLS surfactants. This community development initiative seeks to empower Asemgede residents by providing training in making dishwashing soap from pandan leaves. The training aims to enhance the skills and knowledge of the village community in processing organic materials into valuable products, thereby improving their economic welfare. The initiative also focuses on increasing women's participation, especially members of the village's Family Welfare Movement (PKK), enabling them to contribute to the community's economic development and fostering innovation