Suhertina
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mental Illness dan Self Care Behavior Perpetrator Non-Suicidal Self Injury Female Victims of Sexual Violence: A Phenomenological Study Raden Deceu Berlian Purnama; Suhertina; Ku Hidayatullah Binti Ku Ismail; Regita Cahyani Putri; Hasgimianti; Raja Rahima Munawarah Raja Ahmad
MUWAZAH : jurnal kajian gender Vol 16 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v16i2.8799

Abstract

The objectives of this study are: 1) gaining knowledge about the forms of mental illness experienced by perpetrators and 2) gaining knowledge about the self-care behavior abilities of perpetrators of NSSI who are victims of sexual violence. This study uses a phenomenological approach, Located in Pekanbaru. The number of research informants is 5 victims of sexual violence who commit NSSI through a purposive sampling technique. Data collection using open-ended interview techniques and observation. This research uses Husserl's phenomenological approach, the data is analyzed using the Colaizi 1978 model, namely the data is read repeatedly, extracting significant statements, coding meaningful and important statements, inserting them into themes, describing in detail and unambiguously, identifying common points of view and sublimation of thematic concepts, validating the participants. The results of this study indicate the types of mental illness experienced by NSSI perpetrators are 1) anxiety disorders, of the realistic type with avoidant and attached behavioral patterns and social anxiety disorders, 2) post-traumatic stress experienced by informants of the complex, chronic PTSD type, and comorbidities strengthened by the following factors: committed by a close person, accompanied by physical torture, the victim hides the fact of violence and lack of social support from the family. Self-care of female, namely: 1) self-physical care; the informant is reluctant to take care of themselves physically; 2) psychological care; the informant is serious about recovering psychologically; 3) spiritual care; the research informant tries to stay connected with God; and 4) the informant's professional life continues with various motives.
Studi kualitatif pembelajaran aqidah-akhlak: analisis berbasis kurikulum cinta dan kepedulian lingkungan pada mahasiswa Sariah Sariah; Suhertina; Andi Murniati; Herlina; Syarifuddin
Jurnal Konseling dan Pendidikan Vol. 13 No. 4 (2025): JKP
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/1193200

Abstract

Krisis lingkungan kontemporer menunjukkan bahwa persoalan ekologis tidak semata-mata bersifat teknis, tetapi juga berkaitan dengan lemahnya internalisasi nilai moral dan keagamaan. Pendidikan agama di perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran etis dan tanggung jawab ekologis mahasiswa, khususnya melalui pembelajaran aqidah-akhlak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi dalam mengikuti pembelajaran aqidah-akhlak berbasis kurikulum cinta serta kontribusinya terhadap pembentukan kepedulian lingkungan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan orientasi interpretatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap sepuluh mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik berbantuan perangkat lunak NVivo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran aqidah-akhlak dipahami mahasiswa sebagai pengalaman belajar yang bermakna dan reflektif. Aqidah dimaknai sebagai keyakinan hidup yang terinternalisasi melalui praktik ibadah, kesadaran moral, dan tanggung jawab sosial. Pendekatan pembelajaran yang humanis, empatik, dan kontekstual berperan penting dalam membantu mahasiswa mengaitkan nilai keimanan dengan sikap akhlak serta kepedulian terhadap lingkungan. Kepedulian lingkungan dipahami sebagai bagian dari amanah keimanan dan wujud rasa syukur atas ciptaan Allah, meskipun implementasinya berlangsung secara bertahap. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran aqidah-akhlak berbasis kurikulum cinta memiliki potensi strategis dalam membentuk mahasiswa sebagai agen dakwah dan perubahan sosial yang berkarakter, reflektif, dan memiliki kesadaran ekologis.