Perubahan paradigma pendidikan pascapandemi telah mendorong pemanfaatan ujian online sebagai metode evaluasi utama di perguruan tinggi. Meskipun efisien dan fleksibel, pelaksanaan ujian daring memunculkan tantangan psikologis, terutama berupa kecemasan akademik yang dapat menghambat performa mahasiswa ini yang melatarbelakangi permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis validitas dan reliabilitas instrumen kecemasan ujian online, mengevaluasi persepsi efektivitas pelaksanaan ujian daring, mengidentifikasi penyebab kecemasan, serta mengkaji manajemen teknis ujian berbasis Google Classroom dan Google Meet berdasarkan perspektif gender. Penelitian ini dilakukan di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau dengan pendekatan kuantitatif deskriptif. Jenis data yang digunakan adalah data primer berupa hasil survei melalui angket skala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Responden terdiri dari 24 mahasiswa, yaitu 7 laki-laki dan 17 perempuan. Teknik analisis data menggunakan tabulasi silang (crosstabulation) dan persentase untuk mengeksplorasi perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh item angket kecemasan memiliki validitas tinggi (r = 0.472–0.831; p < 0.05) dan reliabilitas sangat tinggi (Cronbach’s Alpha = 0.939). Sebanyak 41,7% mahasiswa menilai pelaksanaan ujian online cukup efektif, dengan kecenderungan mahasiswa perempuan menunjukkan tingkat kecemasan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Faktor utama penyebab kecemasan adalah ketidakpastian teknis, keterbatasan waktu, dan tekanan akademik, yang dominan dirasakan oleh perempuan. Google Classroom dinilai cukup efektif oleh 50% responden, sedangkan Google Meet dinilai mendukung interaksi namun belum sepenuhnya mengurangi kecemasan. Pembahasan mengaitkan temuan dengan pendekatan kognitif-emotif, menunjukkan bahwa restrukturisasi pola pikir irasional melalui strategi ini dapat membantu mahasiswa, khususnya perempuan, dalam mengelola kecemasan. Studi ini menegaskan bahwa pelaksanaan ujian online perlu dirancang tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dengan mempertimbangkan keseimbangan kognitif dan emosional peserta didik.