Masalah gizi lebih pada balita merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang terus meningkat di Indonesia dan berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan anak. Kondisi ini berkaitan erat dengan perubahan pola konsumsi, pola asuh makan, dan gaya hidup keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil risiko gizi lebih pada balita berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tuo Pasir Mayang tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder dari aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPBGM). Populasi penelitian adalah seluruh balita yang tercatat pada bulan Agustus 2025 sebanyak 530 anak. Data dianalisis menggunakan analisis univariat berupa distribusi frekuensi dan persentase untuk menggambarkan karakteristik status gizi balita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi balita berisiko mengalami gizi lebih sebesar 14,5%. Dari kelompok balita berisiko gizi lebih tersebut proporsi berdasarkan jenis kelamin relatif seimbang, yaitu laki-laki 49,4% dan perempuan 50,6%. Berdasarkan kelompok umur, balita usia 24–59 bulan memiliki proporsi risiko tertinggi (49,3%), diikuti usia 6–23 bulan (42,9%) dan usia 0–5 bulan (7,8%). Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah kerja UPTD Puskesmas Tuo Pasir Mayang menghadapi beban risiko gizi lebih balita yang cukup tinggi, terutama pada kelompok usia di atas dua tahun. Oleh karena itu diperlukan penguatan upaya promotif dan preventif berbasis keluarga melalui edukasi gizi, peningkatan kapasitas kader, serta pemantauan pertumbuhan secara berkelanjutan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi puskesmas dan pemerintah daerah dalam merancang kebijakan dan intervensi pencegahan obesitas anak secara terintegrasi.