Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS BACKLOG DAN PROFIL HUNIAN DI KECAMATAN DENPASAR UTARA: PENDEKATAN PEMETAAN SPASIAL Wijaya Putra, A. A. Gde Sutrisna; Setiani, Ni Made; Sri Anjani, Ida Ayu Anggara; Jehara, Lorensius
Jurnal Ilmiah Teknik Universitas Mahasaraswati Denpasar (JITUMAS) Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Teknik UNMAS Denpasar
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/jitumas.v5i2.12819

Abstract

Kota Denpasar merupakan salah satu wilayah dengan pertumbuhan penduduk dan arus urbanisasi yang cukup tinggi. Berdasarkan data BPS Provinsi Bali, Kota Denpasar memiliki laju pertumbuhan penduduk sebesar 1.00% per tahun 2025. Laju pertumbuhan penduduk di Kota Denpasar merupakan yang tertinggi di Provinsi Bali. Dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk di Kota Denpasar, maka semakin tinggi juga kebutuhan terhadap hunian. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kondisi hunian, tingkat backlog, dan pola distribusi permukiman di Kecamatan Denpasar Utara dengan pendekatan pemetaan spasial. Metode yang diterapkan mencakup survei lapangan, analisis kuantitatif, dan analisis spasial menggunakan SIG untuk memetakan distribusi hunian dan menghitung ketimpangan antara jumlah rumah dan jumlah Kepala Keluarga (KK). Data yang dikumpulkan menunjukkan adanya 42.008 unit rumah, di mana rumah swadaya mendominasi (60,5%) dan tipe rumah tunggal mencapai 81,9%. Selain itu, terdapat 186 lokasi perumahan yang distribusinya tidak merata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa kelurahan memiliki backlog. Ini berdampak pada hunian berjejaring, keterbatasan ruang tumbuh, dan kemungkinan munculnya kawasan kumuh. Selain itu, terdapat masalah lingkungan seperti pelanggaran sempadan sungai, perubahan fungsi lahan, dan infrastruktur lingkungan yang belum tersebar merata. Menurut penelitian ini, backlog harus diatasi melalui pendekatan spasial, penegakan tata ruang, dan penggunaan SIG sebagai alat utama dalam perencanaan perumahan berkelanjutan.
IMPLEMENTASI TRI HITA KARANA DALAM PENGELOLAAN HUTAN ADAT DI DESA DEMULIH, BANGLI Mahendra Dewi, Ni Luh Putu; Oktaviana Yulti, Dewi Maria; Sri Anjani, Ida Ayu Anggara; Setiani, Ni Made
Jurnal Ecocentrism Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Ecocentrism
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Mahasaraswati Denpasar, Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/jeco.v6i1.12867

Abstract

The Tri Hita Karana philosophy encompasses the relationship between humans and God (parhyangan), between humans (pawongan), and between humans and the environment (palemahan). The study aims to determine the application of Tri Hita Karana in the management of customary forests in Demulih Village. Information was obtained through interviews with customary forest managers and direct observation. The implementation of Tri Hita Karana in the parhyangan aspect is reflected in the piodalan activities held by the Demulih customary forest management community in eleven temples within the customary forest area and there are pools for melukat activities that are open to the entire community accompanied by customary forest managers. In the pawongan aspect, the determination of customary forests is managed by the Demulih Customary Law Community (Customary Village) as the guardian of customary forests, the utilization of customary forests with production functions and the management of customary forests are regulated in awig-awig, including the prohibition of entering forest areas during the mourning period which lasts for 12 days. The Palemahan aspect is reflected in the activities of Customary Forest Stakeholders in managing Customary Forests, utilizing traditional knowledge in the utilization of genetic resources, non-timber forest products, and environmental services, as well as protecting against forest and land fires. Therefore, this research is expected to provide a source of information regarding the implementation of Tri Hita Karana in customary forest areas in Bali.