Kegiatan pertambangan di Indonesia menjadi sektor yang berkontribusi untuk kebutuhan ekonomi yang produktif. Berdasarkan data dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per akhir 2024 total cadangan batu bara secara nasional sebesar 36,28 miliar ton. Meski berkontribusi secara ekonomi, aktivitas pertambangan menimbulkan pencemaran lingkungan, terutama air asam tambang yang mengandung logam berat seperti besi (Fe) dan tembaga (Cu). Fitoremediasi menjadi solusi ramah lingkungan dengan memanfaatkan tanaman yang mampu menyerap logam tersebut. Penulisan ini menggunakan metode studi literatur dari jurnal, buku, dan situs web terkait. Berbagai penelitian menunjukkan tanaman fitoremediasi tanaman lokal seperti kultivar puring (Codiaeum variegatum), ekor kucing (Typha angustifolia), kayu apu (Pistia stratiotes (L.) dan kiambang (Salvinia molesta Mitchell), purun tikus (Eleocharis dulcis), akar wangi (Chryzophogo nzizaniodes (L.), gumitir (Tagetes erecta L), daun tombak (Sagittaria lancifolia), mawar air (Echinodorus palaefolis). Efektivitas penyerapan kadar logam besi (Fe) tertinggi diperoleh tumbuhan kiambang (Salvinia molesta) dan kayu apu (Pistia stratiotes) dengan efisiensi lebih dari 90%, serta penyerapan kadar logam tembaga (Cu) tertinggi diperoleh tumbuhan Chryzophogon zizanioides (84%). Tanaman ini pertumbuhan nya cukup banyak di Indonesia sehingga kegunaannya dimanfaatkan untuk menurunkan logam berat, meskipun beberapa mengalami stres akibat akumulasi logam. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan terpadu untuk optimalisasi fitoremediasi di lahan pasca tambang.