Abstract. This research aims to determine the effectiveness of storytelling using puppet media in introducing sex education to early childhood. Sex education is important to be introduced from an early age in a simple, age-appropriate, and developmentally suitable manner so that children can understand their bodies, learn self-protection, and recognize appropriate and inappropriate touches. The background of this study is the lack of children's understanding of private body parts and the limited availability of suitable educational media to address this sensitive topic. This study employed a quantitative approach with a quasi-experimental method using a pretest-posttest control group design. The subjects were Group B children at Madrasah Roudhotul Fawaid, divided into two groups: the experimental group received treatment using storytelling with puppet media, while the control group received treatment using storytelling with flash card. Data were collected through structured observation using assessment instruments covering five key aspects of basic sex education: identifying private body parts, recognizing good and bad touches, knowing whom to report to, understanding body boundaries and self-protection, and recognizing gender differences in a simple way. The results showed a significant increase in the understanding of children in the experimental group after the treatment. Statistical analysis indicated a significance value of 0.000 < 0.05, meaning the alternative hypothesis (Ha) is accepted. Therefore, it can be concluded that storytelling using puppet media is effective in introducing sex education to early childhood. Keywords: sex education, early childhood, storytelling method, puppet media, self-awareness. Abstrak. . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode bercerita men ggunakan media boneka dalam mengenalkan pendidikan seks kepada anak usia dini. Pendidikan seks penting dikenalkan sejak dini secara tepat, sederhana, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak, agar mereka dapat memahami tubuhnya, menjaga diri, serta mengetahui batasan sentuhan yang pantas dan tidak pantas. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pemahaman anak terhadap bagian tubuh pribadi dan keterbatasan media pembelajaran yang sesuai dalam mengenalkan topik sensitif ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan eksperimen semu (quasi experiment) menggunakan desain pretest-posttest control group design. Subjek penelitian adalah anak kelompok B Madrasah Roudhotul Fawaid yang dibagi menjadi dua kelompok: kelompok eksperimen yang diberi perlakuan dengan metode bercerita menggunakan media boneka, dan kelompok kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi terstruktur menggunakan instrumen penilaian yang mencakup lima aspek pemahaman dasar pendidikan seks: mengenal bagian tubuh pribadi, mengenal sentuhan baik dan tidak baik, mengetahui kepada siapa harus mengadu, menjaga diri dan batas tubuh, serta mengenali perbedaan jenis kelamin secara sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan pada pemahaman anak kelompok eksperimen setelah diberikan perlakuan. Hal ini dibuktikan dari hasil perhitungan statistik yang menunjukkan nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05, yang berarti Ha diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode bercerita menggunakan media boneka efektif dalam mengenalkan pendidikan seks pada anak usia dini. Kata kunci: pendidikan seks, anak usia dini, metode bercerita, media boneka,kesadaran diri.