Preeklampsia dianggap sebagai penyebab utama kematian ibu dan janin di Indonesia, yang menjadi tantangan dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya target penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup sejak 2030. Kejadian preeklampsia didampaki dari berbagai faktor risiko, misalnya paritas, tingkat pendidikan, frekuensi pemeriksaan antenatal care serta riwayat hipertensi. Studi ini ingin mengamati faktor risiko kejadian preeklampsia pada ibu hamil di RSU Anutapura Palu. Studi ini berjenis survey analitik secara berpendekatan case control. Sampel studi ini sejumlah 120 partisipan yang mencakup 60 kontrol serta 60 kasus yang ditentukan dari cara total sampling bagi kelompok kasus serta matching berdasarkan umur untuk kelompok kontrol. Data diperoleh dari rekam medis serta dianalisa memakai uji odds ratio (OR) dengan keyakinan 95%. Studi ini menghasilkan bila keempat variabel yang dikaji berupa faktor risiko terjadinya preeklampsia, yaitu Pendidikan rendah (OR = 2,891; CI 95%: 1,356–6,161), Paritas satu atau lebih dari tiga orang (OR = 3,000; CI 95%: 1,424–6,319), Riwayat hipertensi (OR = 10,846; CI 95%: 4,646–25,319), dan Frekuensi pemeriksaan ANC kurang dari empat kali (OR = 2,307; CI 95%: 1,097–4,850). Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa paritas, tingkat pendidikan, frekuensi pemeriksaan ANC serta riwayat hipertensi berperan sebagai faktor risiko kejadian preeklampsia pada ibu hamil di RSU Anutapura Palu. Hasil ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam merumuskan strategi pencegahan preeklampsia melalui edukasi dan peningkatan mutu pelayanan antenatal, sehingga dapat menekan risiko komplikasi kehamilan serta bisa meminimalisir angka kematian ibu.