Subagja
Universitas YPIB Majalengka

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

UJI PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI SABUN CAIR VCO (VIRGIN COCONUT OIL) DAN SABUN CAIR MCT (MEDIUM CHAIN TRYGLISERIDA) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus Nina Pratiwi Susanti; Subagja; Yahya Ade Primadi
Praeparandi : Jurnal Farmasi dan Sains Vol 6 No 2 (2023): Praeparandi : Jurnal Farmasi dan Sains
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas YPIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan sabun cair dapat dibuat dari bahan alami yaitu kelapa. Salah satu produk kelapa yang saat ini berkembang dan diminati adalah Minyak Kelapa Murni atau Virgin Coconut Oil (VCO). VCO mengandung asam-asam lemak jenuh diantaranya Medium Chain Fatty Acid (MCFA) dan Medium Chain Trygliserida (MCT). Tujuan Penelitian untuk mengetahui perbandingan aktivitas antibakteri antara sabun cair VCO dengan sabun cair MCT terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini menggunakan metode difusi sumuran dengan media pertumbuhan nutrient agar. Variabel X dan Z yaitu VCO (Virgin Coconut Oil) dan MCT (Medium Chain Trygliserida) diformulasikan menjadi sediaan sabun cair pada konsentrasi 15%, 30% dan 45% (Percobaan dilakukan pada 5 cawan petri) dan variabel Y yaitu adanya daya hambat pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus dilihat dari adanya zona bening. Zona bening yang didapatkan untuk masing-masing kelompok perlakuan yaitu VCO (15%) 13,20mm, VCO (30%) 19,76mm dan VC0 (45%) 21,41mm sedangkan MCT (15%) 16,90 mm, MCT (30%) 21,56mm dan MCT (45%) 24,27mm. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan aktivitas antibakteri antara sabun cair VCO (Virgin Coconut Oil) dengan sabun cair MCT (Medium Chain Trygliserida) terhadap  bakteri Staphylococcus aureus. Sabun Cair MCT memiliki aktivitas antibakteri yang paling besar jika dibandingkan dengan sabun cair VCO. 
FORMULASI EKSTRAK DAUN BELUNTAS (PLUCEA INDICA L.) SEBAGAI SEDIAAN GRANUL EFFERVESCENT UNTUK MENINGKATKAN NILAI KESUKAAN Rahma Nafi’ah; Subagja; Ayu Puji Astuti
Praeparandi : Jurnal Farmasi dan Sains Vol 9 No 2 (2026): Praeparandi : Jurnal Farmasi dan Sains
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas YPIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51997/9vq75e28

Abstract

Daun beluntas (Pluchea indica L.) mengandung senyawa aktif flavonoid, alkaloid, polyninyl, saponin, tanin, dan minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik formula granul effervescent ekstrak daun beluntas dan uji kesukaan dari 3 formula yang menvariasikan komponen asam dan basa. Granul effervescent dibuat dengan metode granulasi basah dengan perbandingan asam sitrat : asam tartrat : natrium bikarbonat, yaitu : F1 (7% : 10% : 33%), F2 (6% : 12% : 32%), F3 (5% : 14% : 31%). Formula diuji evaluasi fisik meliputi: uji organoleptis, uji sudut diam, uji kadar air, uji waktu dispersi, uji ketinggian buih, dan uji kesukaan pada 20 orang panelis. Hasil uji evaluasi menunjukkan bahwa formula memiliki warna hijau dengan aroma khas beluntas. F1 merupakan formula yang memiliki kelembaban yang paling rendah yaitu 0,65% dengan sudut diam 26,80°, waktu dispersi 136 detik, dan ketinggian buih 1,3 cm. Pada uji kesukaan menunjukkan bahwa formula yang paling disukai oleh panelis adalah F2 dengan nilai tingkat kesukaan 4. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu formula dengan ekstrak kental sangat terbatas untuk diformulasikan dalam granul effervescent. Uji kesukaan dapat digunakan untuk menilai tingkat kesukaan formula pada panelis.
PENGARUH PENAMBAHAN SARI BELIMBING WULUH TERHADAP KADAR ASAM LEMAK BEBAS PADA KALDU DAGING SAPI Tiara Lofansa; Subagja; Luky Septiansyah Anjastika
Praeparandi : Jurnal Farmasi dan Sains Vol 8 No 2 (2025): Praeparandi : Jurnal Farmasi dan Sains
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas YPIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51997/9e1b7h68

Abstract

Belimbing wuluh atau belimbing asam merupakan tanaman asli berasal dari negara Indonesia dan juga ditemukan di daratan Malaya. Kaldu adalah hasil yang diperoleh dari daging sapi, daging ayam, atau daging unggas caranya dengan memasak bahan yang kaya air dan protein, tanpa atau dengan penambahan bumbu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sari belimbing wuluh terhadap kadar asam lemak bebas dan mengetahui konsentrasi yang paling besar dalam menurunkan kadar asam lemak bebas. Penurunan asam lemak bebas pada kaldu merupakan langkah awal dalam upaya memperbaiki kualitas rasa, dan kestabilan dalam penyimpanan kaldu dapat lebih panjang. Metode yang digunakan adalah metode titrasi alkalimetri dengan menambahkan sari belimbing wuluh pada konsentrasi 10%, 20%, dan 30% ke dalam kaldu melalui proses perebusan. Pengujian mencakup uji kadar asam lemak bebas dan uji kadar asam sari belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan sari belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 30% berpengaruh dalam menurunkan kadar asam lemak bebas pada kaldu daging sapi. Dengan demikian, disimpulkan bahwa penambahan sari belimbing wuluh dengan berbagai konsentrasi berpengaruh dalam menurunkan kadar asam lemak bebas pada kaldu, dengan konsentrasi 30% memberikan penurunan yang paling besar.
UJI EFEKTIVITAS STIMULAN SUSPENSI EKSTRAK RUMPUT LAUT (SARGASSUM SP.) TERHADAP MENCIT PUTIH JANTAN (MUS MUSCULLUS) Subagja; Siti Pandanwangi; Filah Suryana Bahri
Praeparandi : Jurnal Farmasi dan Sains Vol 8 No 2 (2025): Praeparandi : Jurnal Farmasi dan Sains
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas YPIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51997/de3yqx12

Abstract

Ekstrak rumput laut (Sargassum sp.) memiliki potensi sebagai biostimulan karena kandungan flavonoid, alkaloid, terpenoid, dan senyawa lainnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas stimulansia dari ekstrak rumput laut (Sargassum sp,) pada mencit putih jantan dan mengetahui pada konsentrasi berapa yang efektif sebagai stimulansia pada mencit. Penelitian menggunakan mencit menunjukkan bahwa suspensi ekstrak dengan konsentrasi 15% memiliki efek stimulasi yang signifikan, dibandingkan dengan konsentrasi 5% dan 10%. Hasil ini didukung oleh analisis statistik menggunakan ANOVA satu arah dan uji non-parametrik Kruskal Wallis, serta uji T untuk membandingkan signifikansi antar perlakuan. Dengan demikian, ekstrak rumput laut (Sargassum sp.) dapat dianggap sebagai potensial untuk pengembangan sebagai stimulan dalam berbagai aplikasi.