Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN LITERASI DAN MOTORIK HALUS ANAK USIA DINI MELALUI WORKSHOP MULTISENSORY STORYTELLING DAN PEMBUATAN PRAKRAYA KRIYA SEDERHANA MENGGUNAKAN METODE PLAY-BASED LEARNING Widia Nur Utami Bastaman; Rima Febriani; Tiara Larissa
The Proceeding of Community Service and Engagement (COSECANT) Seminar Vol. 4 No. 1 (2024): The Proceeding of Community Service and Engagement (COSECANT) Seminar
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/cosecant.v6i1.7842

Abstract

Pendidikan merupakan kebutuhan pokok bagi setiap manusia dan sudah mulai dikenalkan sejak usia dini (0 - 6 tahun). Salah satu aspek penting pada perkembangan usia dini adalah berkembangnya kemampuan literasi dan kemampuan motorik halus. Kemampuan motorik halus merupakan pendukung utama bagi kesiapan perkembangan tingkat literasi yang lebih lanjut yaitu kegiatan menulis. Pentingnya perkembangan kedua kemampuan tersebut sangat disadari oleh TK pra-sejahtera Islam Cendekia Gemilang dalam mengembangkan metode belajar bagi siswa-siswinya. Namun kegiatan tersebut menjadi monoton karena bahan ajar dan kegiatan belajar yang kurang variatif, serta suasana belajar yang kurang membangkitkan semangat bagi para siswa siswi. Maka dari itu, melalui pendampingan ini, tim pengabdian masyarakat Telkom University akan melakukan kegiatan workshop multisensory storytelling yang fokus melatih kemampuan literasi sekaligus workshop melatih kemampuan motorik halus anak. Multisensory storytelling akan melibatkan kemampuan dalam partisipasi membaca bersama dengan menambahkan permainan stimulus kemampuan motorik halus melalui metode play-based learning (bermain sambil belajar). Workshop akan dilakukan di perpustakaan anak, sehingga saat proses storytelling akan lebih terkondisikan dengan baik, juga para siswa-siswi dapat mengetahui beragam sumber literasi secara langsung. Yang kemudian akan dilanjutkan dengan sesi workshop pembuatan anyaman sederhana untuk melatih kemampuan motorik halus anak sambil mendengarkan cerita. Dengan terlaksananya workshop multisensory storytelling dan workshop pembuatan anyaman ini, diharapkan para siswa-siswi dapat memiliki pengalaman yang menarik dalam mengasah kemampuan literasi dan kemampuan motorik halus, serta para pengajar pun akan mendapat informasi baru untuk mengembangkan kegiatan belajar mengajar yang lebih variatif.
Javanese Fashion on the Small Screen: Sustaining Tradition through Costume in Gadis Kretek Series Tiara Larissa; Muchammad Zaenal Al Ansory
JURNAL RUPA Vol 10 No 1-2 (2025): In Press
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/rupa.v10i1-2.9769

Abstract

This study examines how Javanese traditional aesthetics are preserved and recontextualized through costume characters in the Gadis Kretek film series. As visual media increasingly shapes contemporary fashion discourse, film operates as a cultural agent that constructs and communicates meanings of traditional dress within specific socio-cultural contexts. In Gadis Kretek, costume design is not merely decorative but is deeply embedded in the narrative, representing Javanese women’s identities within the socio-historical context of kretek culture. The series portrays women across different social positions, from aristocratic figures to female laborers in the kretek industry, where costume becomes a key visual element in expressing class distinction, gender roles, and cultural expectations. This research employs a qualitative approach using visual semiotic analysis, focusing on denotative, connotative, and mythological meanings of costume elements. The analysis explores how visual elements such as kebaya, batik motifs, textile materials, and accessories function as cultural signs that reflect social hierarchy, femininity, labor identity, and historical context. Particular attention is given to how variations in material quality, silhouette, and styling construct contrasting representations of Javanese women. The findings show that costume characters function as cultural signifiers that articulate Javanese femininity, class distinction, and labor identity, while also reinforcing cultural narratives rooted in tradition. At the same time, the use of traditional materials and craftsmanship reflects values aligned with sustainable fashion practices, particularly in terms of cultural preservation, local knowledge transmission, and continuity of artisanal practices. This study highlights how film, through costume design, not only preserves Javanese traditional aesthetics but also actively reinterprets them within contemporary visual culture.
Pelatihan Pengembangan Merchandise Komunitas dengan Penerapan Teknik Marbling Masyarakat Sasar: Komunitas Rumah Pelangi Indonesia, Baleendah, Jawa Barat Rima Febriani; Widia Nur Utami; Tiara Larissa
Charity : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2026): Charity-Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : PPM Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/charity.v9i2.10476

Abstract

Sebagai komunitas non-profit, salah satu tantangan terberat komunitas Rumah Pelangi Indonesia adalah menyediakan pendanaan berkelanjutan untuk menunjang berbagai aktivitas komunitas. Pada awal tahun 2024, komunitas Rumah Pelangi Indonesia mulai menyiapkan unit bisnis, agar dapat menunjang pendanaan komunitas secara lebih optimal. Salah satu program yang dirintis oleh unit bisnis komunitas ini adalah pembuatan produk kreatif untuk merchandise komunitas. Merchandise ini diharapkan dapat mendukung aktivitas promosi, memperkuat citra positif, merepresentasikan budaya yang dimiliki komunitas, serta menjadi strategi untuk menarik perhatian pembeli. Melalui pengabdian masyarakat ini, tim pengabdian masyarakat Telkom University akan memberikan pendampingan kepada komunitas terkait perancangan merchandise komunitas sekaligus melatih teknik kriya baru yang menarik, yaitu teknik marbling yang mudah diaplikasikan oleh anak-anak. Sehingga produk merchandise yang dihasilkan, dapat lebih variatif dari produk merchandise sebelumnya dan menambah nilai jual serta berdampak pada unit bisnis komunitas secara lebih optimal. Dalam pelaksanaan pendampingan ini, tim pengabdian masyarakat Telkom University menerapkan prinsip design thinking, yaitu Empathize (Empati), Define (Definisi), Ideate (Ideasi), Prototype (Prototipe), dan Test (Pengujian). Pendampingan ini diharapkan dapat memberikan alternatif desain merchandise yang lebih variatif dan mendukung unit bisnis komunitas. Juga memberikan stimulasi kemampuan motorik halus, serta kebebasan dalam mengekspresikan kreativitas dan imajinasi anggota komunitas.