Industri manufaktur furnitur memandang perubahan tata letak (layout) sebagai desain yang bersifat dinamis, ditandai dengan serangkaian penambahan, perpindahan area kerja, dan perubahan kebutuhan ukuran fasilitas yang terus-menerus. Namun, ketika perancangan tata letak hanya bergantung pada sketsa 2D atau gambar yang versi nya tidak konsisten, proses pengambilan keputusan sering menjadi lambat, komunikasi antar tim rentan terhadap kesalahan, dan revisi cenderung berulang. Untuk mengatasi kendala tersebut, penerapan desain 3D di bidang furnitur diterapkan sehingga dapat membangun dan menguatkan kemampuan tim internal. Tim didorong untuk membuat dan mengelola model tata letak fasilitas berbasis 3D sebagai sumber kebenaran tunggal. Model 3D ini, yang memiliki sifat parametrik, harus dapat direvisi dengan cepat dan diturunkan menjadi dokumentasi 2D kapan pun diperlukan, bukan hanya berfungsi sekadar gambar statis. Dalam kajian ini, Teknik Template Small/Medium/Large diperkenalkan sebagai pendekatan terstruktur untuk desain tata letak 3D dengan menggunakan kasus nyata industri. Proses perancangan diawali dengan pengambilan data ukuran dan kondisi lapangan, pemetaan zona kerja, serta analisis kebutuhan ruang. Proses ini dilanjutkan dengan praktik membangun model 3D dan menyusun beberapa skenario tata letak. Tinjauan dilakukan secara iteratif bersama engineer perusahaan agar model yang dihasilkan tetap realistis dan siap menjadi acuan operasional. Luaran utamanya adalah model 3D tata letak fasilitas, beserta turunan gambar 2D, dan paket dokumentasi sederhana yang mudah diperbarui. Pendekatan ini secara signifikan diharapkan mampu mempercepat revisi tata letak, mengurangi miskomunikasi lintas fungsi (produksi, pemeliharaan, dan manajemen), serta membuat keputusan pengembangan fasilitas menjadi lebih terukur dan akurat.